[Oneshoot] Bitter Sweet of Life

 

 

Author  : PlisMe
Cast       :
– Yang Yoseob
– Song Jieun
– And others
Genre   : Sad?
Author Note :
ini ff yang dibuat gara-gara lagi suka ma abang Yoseob. Suka-suka deh ngetiknya, ga serius. Ga tau deh ni ff jadi kayak gimana nantinya. Judul ga nyambung ma isinya, seperti biasa. Alurnya juga kecepeten (kayaknya), dimaklumi ya??? Happy reading aja deh.
—–
Jieun POV
Orang kaya memang menyebalkan. Mereka selalu meremehkan kami—aku—, orang yang miskin. Aku tahu aku ini tidak punya apa-apa. Aku tahu aku ini miskin. Tapi, hey, setidaknya aku berpendidikan. Sekarang aku bahkan kuliah. Yah, meski aku harus banting tulang untuk membiayai kuliahku, tapi aku bersyukur. Nasibku masih jauh lebih baik dari teman-temanku, mereka banyak yang putus sekolah karena biaya. Oh ya, sampai mana tadi? Orang kaya? Menyebalkan? Memang. Mentang-mentang kaya mereka selalu berlaku seenaknya.
—–
Flashback
Hari ini dengan terpaksa aku pergi ke Hyundai Department Store, gudangnya orang kaya. Aku terpaksa karena harus menemui pemilik butik tempatku bekerja—Nyonya Han—yang sedang berbelanja. Uuhh…. Aku bahkan bisa melihat raut lelah dari pegawai yang melayaninya. Nyonya Han memang banyak maunya. Aku saja capek menghadapinya, apalagi pegawai ini?
“Annyeong haseyo, Nyonya Han.” Sapaku padanya.
“Annyeong. Ada apa?” tanyanya cuek.
“Saya hanya ingin menyerahkan sketsa desain terbaru saya.” Aku mengeluarkan map dari tas lusuhku.
“Hmm… Coba kulihat.” Nyonya Han meraih map dari tanganku.
“Jwesonghamnida, saya hanya membuat sedikit sketsa.”
“Ah, gwaenchana. Sketsamu bagus-bagus. Aku menyukainya.” Komentar Nyonya Han.
“Gamsahamnida, Nyonya.”
“Eum… Bisakah kau rombak sedikit gaun ini? Aku ingin gaun ini dikenakan putriku saat pertunangannya.”
“Mwo? Ah, ne. Pasti saya akan merubahnya. Putri anda memiliki selera seperti apa?”
“Dia suka putih. Sesuatu yang berenda. Dan lembut. Feminin.”
“Baiklah. Saya pamit sekarang, Nyonya.” Aku undur diri.
Aku bersenandung kecil sambil berjalan keluar dari tempat ini. Huah, tempat ini megah sekali. Semuanya serba ber-merk. Dengan harga yang selangit pastinya. Aku yakin pasti barang termurah di sini sama dengan biaya kuliah satu semeseterku. Benar-benar, orang kaya.
Duagh!!
Ouch, seseorang menabrakku. Itu sangat sakit. Badanku sampai terbentur ke aspal dengan keras. Lihat saja, siku dan lutuku berdarah. Siapa yang menabrakku? Pastilah ia orang kaya.
“Ya! Sakit tau!” bentakku padanya.
“Yang menabrak itu kau! Bukan aku!” balasnya tak mau kalah.
“Kau itu namja! Lebih sopanlah sedikit pada yeoja!”
“Kau? Pantas disebut yeoja? Dengan pakaian seperti ini?” ia melihatku dari atas ke bawah.
“Memangnya kenapa?”
“Dasar yeoja miskin!” ucapnya pelan dan berlalu.
Kata-kata itu terlalu menusuk dalam hatiku. Aku benar-benar membencinya. Membenci kata-kata yang ia lontarkan padaku. Aku tahu, aku memang tak pantas berada di tempat seperti itu. Aku kapok pergi ke sana sekalipun untuk tugas maupun pekerjaan. Aku paling tidak suka dihina.
—–
“Jieun!” panggilan Haerin sukses membuyarkan pikiranku tentang orang kaya.
“Ne! Ada apa?” balasku.
“Kau kosong kan? Mulailah membuat pakaianmu. Kau boleh memakai bahan-bahan di gudang.”
“Benarkah? Aku bisa membuatnya?” aku langsung antusias.
“Tentu saja, sebaiknya rombak dulu gaun untuk putri Nyonya Han. Lalu buatlah gaun itu. Pertunangannya besok lusa.” Saran Haerin.
“Ne, gomawo.” Aku segera mengambil sketsa dan merombak sketsa gaunku.
Jieun POV End
Author POV
Sementara itu di tempat lain…
“Dasar yeoja miskin! Jas mahalku ini menjadi kotor! Pasti tadi jasku ini juga dipegang olehnya. Aku harus segera memasukkannya ke laundry!” umpat seorang namja sambil membersihkan jasnya seadanya.
“Tuan Yang Yoseob, sebaiknya kita masuk sekarang.”
“Ne, sebentar.”
Namja itu adalah Yang Yoseob. Namja yang ditabrak-menabrak Jieun. Yoseob adalah seorang ahli waris dari Yang Corporation. Keahliannya dan kebijaksanaannya sudah tidak diragukan lagi. Sayangnya Yoseob memiliki sifat playboy. Karena itulah oleh kedua orangtuanya ia dijodohkan dengan seorang gadis bernama Han Daeji. Sifat buruk lainnya yaitu Yoseob sangatlah sombong dan angkuh. Selalu merasa berkuasa. Intinya di depan para pegawai, pemegang saham, kolega perusahaan dan apapun yang berhubungan dengan image, Yoseob akan bersikap baik. Tapi di belakang itu, tak jarang ia bermain yeoja deangan statusnya yang playboy. Yoseob juga membenci orang miskin. Ia selalu memandang sebelah mata terhadap orang miskin.
Han Daeji adalah putri semata wayang dari Han Jina, pemilik butik terkenal di Seoul. Sifatnya adalah manja dan selalu bergantung. Memiliki obsesi tersendiri pada Yoseob sehingga meminta ibunya untuk menjodohkannya dengan Yoseob. Tak peduli apapun, yang penting ia bisa mendapatkan Yoseob.
“Untuk selanjutnya, proyek kami adalah memperluas wisata di Pulau Jeju. Tidak hanya keindahan Pulau saja yang dieksplorasi, tapi juga budaya dan mata pencaharian. Seperti peternakan. Kita bisa mengajak wisatawan menuju peternakan. Mereka bisa menunggang kuda atau mungkin memerah susu. Itu semua hal yang mungkin bukan? Jadi mari kita bersama-sama mewujudkan proyek ini.”
Tepuk tangan membahana ketika Yoseob menyelesaikan presetasi tentang proyek baru. Proyek yang sepertinya kecil, tapi sekecil apapun proyek selalu memberi keuntungan bagi perusahaan. Yoseob tidak akan mau menyia-nyiakan hal itu.
“Tuan, besok lusa adalah pesta pertunangan Tuan dengan Nona Han Daeji. Apa Tuan sudah mempersiapkan tuksedo?” tanya Assisten Kang.
“Pertunangan? Han Daeji? Tuksedo? Hmmm… Dimana aku bisa mencari tuksedo yang bagus?”
“Sebaiknya kita pergi ke Butik Nyonya Han saja, Tuan.” Usul Assisten Kang.
“Baiklah, kita pergi ke sana.” Ucap Yoseob.
“Ne, Tuan.”
—–
Yoseob turun dari mobil mewahnya. Dengan gaya playboy yang cool, ia membuka kacamata hitamnya. Menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menapakkan kaki di butik. Di dalam butikpun matanya masih sibuk menjelajah. Mungkin saja ada pelayan yang cantik, begitu pikirnya.
“Annyeong haseyo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu.” Sembari menunduk Jieun menyapa Yoseob.
“Ne, aku butuh tuksedo.”
“KAU!!!” mereka berdua serentak berteriak ketika melihat satu sama lain.
“YA! Yeoja miskin! Jasku kotor gara-gara kau!”
“Heh! Namja sombong! Badanku penuh plester gara-gara kau!”
“Ada apa ini? Jieun, bersikaplah sopan pada pelanggan. Apalagi Yoseob adalah calon tunangan Daeji.” Tiba-tiba Nyonya Han datang.
“Jwesonghamnida.” Ucap Jieun pada Yoseob setengah hati.
“Ne.” Balas Yoseob cuek.
“Baiklah, Jieun tolong temani Yoseob mencari tuksedo yang cocok untuk pertunangannya. Carikan yang cocok dengan gaun Daeji juga.”
“Ne, Nyonya. Mari Tuan.” Jieun mengantarkan Yoseob mencari tuksedo yang cocok.
Author POV End
Yoseob POV
Kali kedua aku bertemu dengan yeoja itu. Yeoja yang menabrakku. Setelah kulihat-lihat ia tidak terlalu buruk juga. Wajahnya cukup cantik dengan rambut panjang. Dari wajahnya aku menyimpulkan dia adalah seorang yang mandiri tidak seperti Daeji. Senyum terus tampak di wajahnya sekalipan aku tahu dia tidak menyukaiku. Apa daya, aku harus mengakui kalau senyumnya benar-benar manis. Celotehannya juga riang, suaranya lembut tidak seperti Daeji. Dia juga tinggi berbeda dengan Daeji yang pendek. Tapi, kenapa aku selalu membandingkannya dengan Daeji? Sepertinya dia memang benar-benar unggul daripada Daeji. Jujur saja, aku bukan tipe yang menyukai yeoja manja. Meski playboy, aku lebih menyukai yeoja yang mandiri dan lembut. Ya mungkin seperti Jieun ini.
“Jieun-ssi.” Panggilku.
“Ne, ada apa, Tuan?” ia kembali mengeluarkan senyumnya.
 “Apa kau suka seni?”
“Tentu saja. Aku kuliah di jurusan desain, tentu aku menyukai seni.” Ia tertawa kecil.
“Oh, aku hanya bertanya.” Aku kembali mengeluarkan sifat angkuhku.
“Ne, Tuan.” Balasnya sambil tersenyum dan kembali mencarikan tuksedo untukku.
Jieun! You make me crazy!!! Senyummu itu benar-benar menawan. Tapi kau tahu aku adalah orang yang angkuh, orang yang membenci orang miskin. Tapi aku tidak bisa saat didekatmu. Kau terlihat begitu berbeda. Seandainya pertemuan pertama kita tidak seperti itu, semuanya tidak akan begini. Yoseob BABO!!!!
 “Bagaimana dengan tuksedo ini, Tuan?”
“Ah, tuksedonya bagus. Aku suka modelnya. Aku ambil yang ini.” Kataku dengan angkuh.
“Apa mau dicoba dulu, Tuan?” tanyanya lagi.
“Sebaiknya aku coba dulu.” Aku melangkah—dengan angkuh—ke ruang ganti.
“Ini Tuan.” Jieun menyerahkan tuksedo—dengan kemeja putih.
Tanpa berkata apa-apa aku meraih tuksedo itu dan masuk ke ruang ganti. Setelah melepas kemeja dan jasku, aku berkaca sembil melihat abs-ku yang masih utuh (?). Akupun memakai kemeja dan tuksedo yang diberikan Jieun. Tapi ada satu hal, aku tidak bisa memakai dasi kupu-kupu. Menurutku dasi itu culun. Akupun keluar dengan dasi yang kuikat seenaknya.
“Bagaimana?” tanyaku meminta pendapatnya.
“Bagus Tuan, sangat cocok. Tapi dasinya…” Jieun melangkah mendekat ke arahku.
Aku menahan napasku ketika Jieun berada tepat di depanku. Tangannya meraih dasi yang tergantung dan membenarkan simpulnya agar membentuk dasi kupu-kupu. Tangannya dengan cekatan membuat dasi kupu-kupu. Lagi-lagi senyum ada di wajahnya. Dari jarak dekat seperti ini wajah Jieun benar-benar manis bagiku. Setelah membuat simpul yang rapi, Jieun mendongak.
Deegg!!
Pandangan kami bertemu. Wajah Jieun seketika menjadi merah. Mungkin dia malu berada sangat dekat denganku. Aku pun juga salah tingkah. Wajah kami mungkin tak lebih dari sepuluh centi.Wajahnya terpaku melihat wajahku, apa ia mengagumi ketampananku? Hehehe????
“Jwesonghamnida, Tuan!” ucapnya cepat sambil membungkuk berulang kali.
“Gwaenchana.” Jawabku singkat.
Yoseob POV End
Jieun POV
Aku menunggu Tuan Yoseob keluar dari ruang ganti. Meskipun aku sebal padanya setengah mati dia tetaplah ‘Tuan’ bagiku. Dia adalah pelanggan dan calon tunangan Han Daeji. Sejujurnya, dia itu tampan. Sangat tampan. Ya, seorang yang miskin sepertiku terlalu jauh mendapatkannya. Dia memang pantas dengan Daeji.
“Bagaimana?” tanyanya meminta pendapatku.
“Bagus Tuan, sangat cocok. Tapi dasinya…” aku melangkah mendekat ke arahnya.
Tanganku meraih dasi yang diikatnya dengan asal-asalan. Dengan cekatan aku membenahi simpulnya agar membentuk dasi kupu-kupu. Aku terus menunduk membuatku melihat dadanya yang bidang itu. Dadaku malah menjadi berdebar-debar. Akupun mendongakkan kepalaku. Tapi, aku malah melihat tatapan matanya padaku. Uh, wajahku merah. Aku malu berada sedekat ini dengannya.
“Jwesonghamnida, Tuan!” aku menunduk berulang kali.
“Gwenchana.” Jawabnya singkat.
Setelah Tuan Yoseob memastikan bahwa tuksedo ini benar-benar akan dipilihnya, aku membawa tuksedo ini ke kasir. Tuan Yoseob mengikutiku dari belakang. Dengan segera aku memasukkannya dalam kantong. Kulihat Tuan Yoseob malah melihat-lihat syal. Kurasa ia ingin membeli syal untuk Daeji. Setelah berapa lama, ia meraih sebuah syal. Eh, bukankah itu syal desainku??
“Aku juga mau ini.” Katanya menyerahkan syal itu.
“Ne, Tuan.” Akupun kembali menghitung barangnya.
“Ini, Tuan. Terima kasih sudah berbelanja di butik kami.” Ucapku.
“Ne. Sampaikan salamku pada Nyonya Han.”
Akhirnya orang itu keluar juga. Sekarang aku bisa melanjutkan membuat gaun untuk Daeji. Tapi, bukankah gaun itu untuk pertunangannya dengan Tuan Yoseob. Kenapa hatiku rasanya tidak rela ya? Entah kenapa, aku ingin memakai gaun itu. Aku tidak ingin Daeji yang memakainya. Aku harus menolak permintaan Nyonya Han. Aku harus menemuinya.
“Annyeong haseyo, Nyonya Han.”
“Ada apa?” tanyanya langsung.
“Jwesonghamnida, saya tidak bisa membuat gaun untuk Nona Daeji.”
“Apa katamu? Tidak bisa? Wae?” Nyonya Han marah mendengarku.
“Entah bagaimana, rasanya gaun itu ingin saya kenakan sendiri. Jwesonghamnida.”
“Baiklah baiklah. Kau ini membuat repot saja, suruh Haerin mencarikan gaun yang cocok.”
“Ne, Nyonya. Jwesonghamnida.”
“Sana pergi!” Nyonya Han mengibaskan tangannya padaku.
Aku pun mencari Haerin untuk memintanya mencari gaun yang cocok untuk Daeji. Aku tahu Nyonya Han pasti sangat marah padaku. Biar bagaimanapun akulah yang diberi kepercayaan. Tapi aku mengecewakannya. Ikutilah kata hati meski akan mengecewakan orang lain. Itu terjadi padaku sekarang.
“Haerin, tolong carikan gaun yang cocok untuk Daeji.”
“Lho? Memang gaunmu kenapa?” tanya Haerin bingung.
“Aku menolaknya. Aku tidak rela gaunku dipakai oleh Daeji.”
“Dasar bodoh! Kesempatan bagus mengapa kau sia-siakan?” Haerin menjitakku.
“Hatiku berkata…. tidak.”
Jieun POV End
Yoseob POV
“Assisten Kang, tolong cari informasi tentang yeoja tadi.” Ucapku begitu keluar dari butik.
“Pelayan toko itu, Tuan?” Assisten Kang memastikan.
“Ne, yang bernama Jieun.”
“Baik, Tuan.”
Aku benar-benar penasaran tentang yeoja itu. Kepribadiannya sulit ditebak. Karakternya berubah-ubah. Sekali bisa marah-marah, lalu tiba-tiba menjadi lembut. Bisakah aku mendekatinya? Tentu bisa. Aku kan playboy, kenapa tidak? Semua yeoja akan tunduk padaku.
“Saya sudah mendapatkan informasi umumnya, Tuan.”
“Bacakan!”
“Dengan nama lengkap Song Jieun, ia dilahirkan di Gwangju, 18 Maret 1992. Orangtuanya meninggalkannya begitu saja di depan sebuah panti asuhan dan dia pun tumbuh di panti asuhan tersebut. Prestasinya cukup baik dan sekarang sedang menempuh kuliah jurusan desain semester 5. Bekerja di butik Nyonya Han untuk membiayai hidup dan kuliahnya.”
“Baiklah, gamsahamnida.”
Rupanya masa lalunya tidak terlalu baik. Sejak kecil hidup di panti asuhan, pasti membuatnya menjadi pribadi yang mandiri. Sungguh, aku tidak bisa hidup tanpa orang tua. Meski aku sering membangkang perintah mereka, aku sangat menyayangi mereka. Aku tidak mungkin bisa sukses tanpa orang tua. Oh, aku menjadi rindu pada Eomma dan Appa. Eomma sekarang ada di rumah sakit. Asmanya kambuh lagi dan sembuh saat mendengarku bersedia dijodohkan.
“Assisten Kang, tolong ke rumah sakit.”
:):):):):)
Dengan langkah lebar-lebar aku berjalan. Aku ingin menemui Eomma. Aku merasa begitu rindu padanya. Aku masih ingat, aku jarang sekali melihat Eomma. Sekali aku melihat Eomma mungkin tak lebih dari sepuluh menit. Sepuluh menit itu juga pasti dihabiskan untuk bertengkar saling menyalahkan.
Beberapa langkah dari kamar Eomma aku bisa mendengar pembicaraan di dalam kamar Eomma. Sepertinya mereka berbicara tentang pertunanganku kali ini. Aku memutuskan untuk menguping.
“Yeobo, jujur saja. Aku tidak begitu menyukai Daeji. Ia terlalu manja untuk menjadi pendamping Yoseob.” Itu suara Eomma.
“Aku juga tidak begitu menyukainya, tapi aku tidak enak hati pada Nyonya Han.” Itu suara Appa.
“Lalu bagaimana? Apa akan dibatalkan? Pertunangan itu bisa dibatalkan bila Yoseob menolak, tapi sampai sekarang Yoseob masih santai-santai saja.”
“Yeobo, aku tahu Yoseob pasti menolak. Dan kita harus mencari yeoja lain untuk Yoseob.”
“……”
Mendengar hal itu, aku kaget. Aku benar-benar tak menyangka. Seketika aku melupakan tujuan awalku unutk menjenguk Eomma. Aku harus mencari hal lain yang lebih penting. Demi masa depanku.
“Assisten Kang, apa kau sudah mendapatkan nomor hp Jieun?”
“Tentu Tuan, ini nomornya.” Ia menyerahkan secarik kertas padaku.
“Aku akan pergi sampai malam. Aku akan bawa mobil sendiri.”
Mungkin aku bisa ke panti asuhan tempat Daeji tumbuh. Tapi aku berpikir, Gwangju-Seoul tidaklah dekat. Jika membawa mobil kemungkinan besar akulah yang akan lelah. Tapi aku juga tidak terbiasa menaiki kereta. Lalu aku haurs kemana? Sekedar iseng, aku pun menelpon Jieun.
“Yeoboseyo.”
“Song Jieun…” panggilku.
“Ne, nuguya?”
“Aku bingung, Jieun-ssi.”
“YA! Dengan siapa aku berbicara!”
“Dengan masa depanmu.”
Tuuutt…. Tuutt….. Tuutt…..
Kenapa ini sama sekali tidak membantu? Aku pusing. Harus kemana aku pergi? Apa aku harus berjalan mengelilingi taman ini? Baiklah, aku akan berjalan-jalan santai di taman ini saja. Lagipula hari belum terlalu sore.
“YOSEOB OPPA!!!” terdengar pekikan seseorang memanggilku.
“Aish! Mengapa saat aku ingin santai ada dia di sini?”
“OPPA! Ternyata Oppa di sini juga! Sepertiya kita memang berjodoh Oppa!” Daeji terus saja berbicara dengan suaranya yang cempreng itu.
“Hei, sudahlah! Berhenti bicara!” ucapku.
“Oppa, aku merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?”
“Tidak!” aku membalasnya dengan kasar.
“Aaahhh…. Oppa bohong kan? Sebenarnya Oppa rindu sekali padaku?” Daeji terus menggodaku bahkan sekarang ia sudah bergelayut manja di lenganku.
“Minggir!” aku menghempaskan tubuhnya yang menempel padaku.
“Ah! Oppa, neomu appo!” keluhnya
Aku sebenarnya juga kasihan padanya. Tapi bagaimanapun aku gengsi. Biarlah sekali ini gadis manja itu merasakan sesuatu yang disebut sakit. Biarlah dia mencoba untuk tegar sekali saja. Dia memang terlalu manja, aku yakin tidak ada yang terluka tapi dia sudah menangis begitu keras. Heelloo? So, who care?
Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi minum saja. Matahari sudah tenggelam, berbagai bar hingga warung yang menjajakan alkohol sudah buka. Sebaiknya aku minum di restoran langgananku saja. Di sana tidak ada yeoja-yeoja yang selalu membuat imanku lemah. Tapi, apa-apaan ini? Tutup! Terpaksa aku pergi ke club.
Hingar bingar musik begitu mengusik telingaku. Yeoja-yeoja dengan pakaian yang belum jadi menggerombol dan menggoda namja yang lewat. Kulihat salah satu dari mereka ada yang mendekatiku. Aku ingat, namanya Nicole. Dia pernah semalam bersamaku. Meski aku playboy, aku bukanlah tipe yang akan ‘meniduri’ yeoja dengan gampangnya. Aku masih suci tau!
“Hai, Yoseob! Lama tak melihatmu di sini?” sapa Nicole dengan ramah.
Sekarang Nicole adalah temanku. Dia bukan lagi sebagai mainanku selama semalam. Terkadang kami bertemu di club ini.
“Aku sedang stress, Nicole!” sahutku dengan keras.
“Wae?”
“Yeoja. Yeoja itu membuatku gila!”
“Hey! Sejak kapan seorang Yoseob kalah oleh yeoja?! Biasanya kan kau yang berkuasa? Sehebat apa yeoja itu?”
“Dia berbeda. Begitu berbeda.”
“Baiklah, whatever. Minumlah sepuasmu, aku akan menunggu!”
“Yeah!”
Yoseob POV End
Author POV
Yoseob terus menenggak wine-nya. Dua botol wine sudah kosong. Yoseob tak puas, ia memesan satu botol lagi. Nicole sudah pergi sedari tadi. Sekarang hanya ada Yoseob yang sudah benar-benar mabuk. Membuka mata pun ia sudah tak kuat. Bartender yang bingung itupun meraih hp Yoseob dan menelpon ke nomor terakhir yang dihubungi Yoseob.
Di sisi lain, di apartemen Jieun. Handphone Jieun sedari tadi berbunyi. Jieun pun mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal itu.
“Yeoboseyo.”
“Annyeong, nona. Apakah benar ini Song Jieun?” tanya bartender.
“Ne, ada apa ya? Ini siapa?”
“Apa anda kenal dengan seorang bernama Yoseob? Sekarang ia sudah mabuk di club kami.”
“Mwo? Dimana alamat club-nya? Akan kujemput dia!” Jieun panik.
“Di dekat minimarket ‘Jjjjang!’. Apa anda tahu?”
“Ne, tunggu sebentar. Aku akan ke sana!”
Jieun panik. Sangat panik. Jadi ternyata tadi yang menelponnya adalah Yoseob. Dan sekarang Yoseob sedang mabuk dan ia harus membawa Yoseob pulang. Padahal Jieun tidak tahu dimana rumah Yoseob. Baru kali ini Jieun direpotkan oleh orang yang baru dikenalnya.
“Aku harus menjemputnya.” Gumam Jieun lalu keluar dari apartemen kecilnya.
Jieun menembus gelap dan dinginnya malam. Ini sudah tengah malam. Kalau tidak nekat, Jieun tidak akan berani keluar pada malam hari. Demi Yoseob. Entah setan apa yang merasuki Jieun, ia melakukannya demi Yoseob.
“Nona Song Jieun?” teriak seseorang tak jauh dari Jieun.
“Ne!” Jieun berlari ke arah orang itu.
“Tuan Yoseob sudah sangat mabuk Nona. Tolong bawa dia pulang Nona.” Bartender itu membantu Jieun memapah Yoseob.
“Ne, maaf merepotkan.” Jieun membawa tubuh Yoseob.
Dengan terseret-seret Jieun memapah tubuh Yoseob yang jelas lebih besar darinya. Jieun sudah memutuskan untuk membawa Yoseob pulang ke apartemennya saja. Besok pagi ia bisa menyuruh Yoseob pulang. Satu masalah terselesaikan. Yoseob bisa tidur di kasurnya dan Jieun bisa tidur di sofa.
“Uuhh… Kau ini berat sekali sih! Tulangku rasanya mau patah!” keluh Jieun sambil membanting tubuh Yoseob di sofa.
Tiba-tiba saja Yoseob bangkit dan dengan sempoyongan berjalan ke kamar mandi. Tangan kanannya menutup mulutnya. Yoseob ingin muntah. Jiuen yang kaget segera mengikuti Yoseob dan melihat Yoseob muntah di kamar mandi. Tapi Yoseob juga muntah di kemejanya.
“Dasar jorok!”
Dengan susah payah Jieun melepas kemeja dan jas Yoseob. Kini ia bisa melihat tubuh Yoseob yang ber-abs. Sekali lempar kemeja Yoseob masuk ke keranjang baju kotor. Wajah Jieun mendadak panas dan memerah malu melihat Yoseob dalam keadaan seperti itu. Jieun pun membawa tubuh Yoseob ke kamarnya dan merebahkan Yoseob di kasur.
“Dasar orang kaya.”
“Aahh!” Jieun memekik.
Yoseob menarik tangan Jieun membuat Jieun terjatuh di dadanya. Jantung Jieun berdetak lebih kencang melihat Yoseob dalam jarak yang lebih dekat dari tadi siang. Tangan Yoseob memeluk punggung Jieun mengeratkan pelukannya.
“Tuan Yoseob. Tuan Yoseob.” Panggil Jieun pelan tapi Yoseob tak bangun—masih kondisi mabuk.
Jieun menyerah dan akhirnya tertidur dengan keadaan berada di atas tubuh Yoseob. Saat tidur, Jieun memiliki kebiasaan aneh. Saat ia merasa kepanasan, ia reflek melepas pakaiannya. Seperti yang terjadi malam ini, Jieun melepas pakaiannya hingga hanya memakai tank top dan hotpants. Jieun benar-benar tidak sadar.
—–
Di sisi lain…
Malam itu Nyonya Yang sudah keluar dari rumah sakit. Ia ingin membantu temannya, Song Jihye untuk mencari putrinya. 20 tahun lalu saat kondisi ekonominya kritis, Nyonya Song ‘menitipkan’ anaknya di panti asuhan. Kini bisnisnya berkembang pesat dan ia ingin mencari anaknya kembali. Ia sudah mendapatkan alamat anaknya sekarang dan berencana menemuinya besok pagi.
Keesokan paginya, Nyonya Yang dan Nyonya Song sudah berada di depan apartemen kecil yang diyakini adalah apartemen anak Nyonya Song. Mereka mengetuk pintu tapi tidak ada balasan. Mereka bahkan berteriak-teriak memanggil namanya tapi tetap tidak ada sahutan. Merekapun menemui pemilik apartemen.
“Tuan, apakah benar anak saya berada di apartemen nomor 51?” tanya Nyonya Song.
“Tentu saja, Nyonya. Tadi malam saya melihatnya masuk ke apartemennya.”
“Tapi sedari tadi kami mengetuk tidak ada sahutan.”
“Mungkin ia masih tidur. Sebaiknya kuberi saja kunci cadangan.”
“Kunci cadangan?”
“Ne, ini dia Nyonya. Nyonya bisa masuk ke kamar anak anda. Tolong jangan buat keributan.”
“Ne, gamsahamnida, Tuan.”
Nyonya Yang dan Nyonya Song bergegas kembali ke apartemen 51. Mereka membuka pintu dan menemukan keadaan yang cukup berantakan. Buku-buku berada di karpet dan mantel ada di sofa. Mereka melangkah pelan menuju ke satu-satunya kamar di apartemen itu.
“Song Jieun! Song Jieun!” panggil Nyonya Song.
Di dalam kamar, Jieun merasa ada yang memanggil dirinya. Tapi Jieun mengira ia hanya bermimpi saja. Merasa tak ada respon, Nyonya Yang dan Nyonya Song membuka pintu kamar. Mata mereka membulat seketika. Tubuh merekapun menegang.
“YAAA!!!! IGE MWOYA!!” mereka kaget melihat Yoseob dan Jieun tidur sambil berpelukan.
Jieun dan Yoseob yang kaget pun terbangun dan mendapati dri mereka tidur sambil berpelukan. Tubuh mereka yang tidak ditutup selimut mengekspos semuanya.
“Eomma!” kaget Yoseob.
“Yaa!! Yoseob! Apa ini!” Nyonya Yang menjewer Yoseob membuat Yoseob turun dari tempat tidur.
“Apa kalian pacaran?”
“MWO??? ANIYO!!!” jawab keduanya serentak.
“Lalu mengapa kalian tidur bersama! Apa yang kau lakukan Yoseob?” Nyonya Yang kembali menjewer telinga Yoseob.
“Kami tidak melakukan apa-apa Eomma!” elak Yoseob sedangkan Jieun hanya bingung.
“Lalu mengapa kalian tidak memakai pakaian?”
“Tidak tahu! Tiba-tiba saja aku sudah bangun di sini!”
“Kau, apa kau Song Jieun?” Nyonya Song mendekat.
“Ne, aku Song Jieun. Nuguya?”
Nyonya Song tidak menjawab. Tapi ia langsung membawa Jieun ke dalam pelukannya. Nyonya Song menangis. Ia bahagia. Begitu bahagia bisa bertemu dengan putri semata wayangnya yang tak pernah dllihatnya selama 20 tahun. Nyonya Yang yang melihat itupun ikut terharu.
“Jieun…. Ini Eomma.”
“Eom.. Eomma?” tanya Jieun tak percaya.
“Ne, ini Eomma! Maafkan Eomma, Jieum! Eomma telah menelantarkanmu! Eomma bersalah! Maafkan Eomma!” Nyonya Song terus memeluk Jieun.
“Eomma. Benar-benar Eommaku?”
“Ne, ne.”
“Eomma, bogoshipo! Jeongmal bogoshipo!”
“Nado bogoshipo, Jieun. Mianhae, jeongmal mianhae.”
“Eomma tidak salah. Aku memaafkan Eomma.”
Setelah sempat menangis bersama-sama, Nyonya Song dan Nyonya Yang melanjutkan interogasi pada Jieun dan Yoseob. Mereka terus melontarkan pertanyaan yang sama.
“Yoseob, Eomma tahu kau ini playboy. Tapi Eomma tidak tahu kau sering meniduri yeoja. Sudah berapa yeoja yang kau tiduri nak?” tanya Nyonya Yang lembut.
“Tidak Eomma. Tak pernah sekalipun aku meniduri yeoja, apalagi Jieun.”
“Lalu Jieun?” tanya Nyonya Song.
“Kami tidak melakukannya. Kami harus menjelaskan semuanya pada kalian dulu.”
“Tidak ada penjelasan. Kami sudah melihat dengan mata kepala kami. Eomma kecewa padamu Yoseob. Kau sudah akan bertunangan, kenapa kau meniduri yeoja lain?”
“Karena aku tidak menyukai Daeji! Dia terlalu manja! Aku menolak pertunanganku Eomma!”
Dalam hati Nyonya Yang sudah gembira. Yoseob menolak bertunangan dengan Daeji, maka ia batal berbesanan dengan keluarga Han.
“Lalu kau mau bertunangan dengan siapa? Eomma ingin kau segera menikah! Paling tidak bertuangan dulu, agar Eomma tenang!”
“Jieun juga tidak apa-apa! Setidaknya ia lebih baik dari Daeji!” semuanya serentak kaget.
“Apa kau mau Jieun? Apa kau mau bertunangan dengan Yoseob?” tanya Nyonya Song.
“Aku…. aku….” Jieun gugup.
“Siapa bilang aku mau bertunangan dengan Jieun! Kalau perlu menikah sekarang!” ucap Yoseob dengan lantang.
“Dasar bocah ini! Jieun saja belum memberikan jawabannya!” Nyonya Yang menjitak kepala Yoseob.
“Jieun, apa kau mau?” tanya Nyonya Song sekali lagi pada Jieun.
“Molla. Terserah Eomma saja.” Ucap Jieun.
“Kalau Eomma menyuruhmu, apa kau mau?”
“Demi Eomma.”
 “Lalu bagaimana? Pesta pertunangan Yoseob adalah besok.” Ucap Nyonya Yang.
“Batal. Aku akan membatalkannya Eomma.” Jawab Yoseob yakin.
“Baiklah, kau harus benar-benar membatalkannya. Jangan bermain-main tentang pertunangan ini, Yoseob!”
“Ne, Eomma. Arasseo!”
“Ada cinta atau tidak. Kau hanya bermain-main atau serius. Eomma tetap akan menikahkan kalian!”
Yoseob terperanjat. Niatnya tadi hanya ingin bermain-main saja. Ia masih ingin menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang. Tapi, mau bagaimana lagi, Nyonya Yang adalah seorang yang tegas. Perintahnya tidak bisa dibantah.
“Ne, Eomma.” Jawab Yoseob pasrah.
“Jieun, kau sekarang bekerja di mana? Apa kau kuliah?” tanya Nyonya Song.
“Aku kuliah jurusan desain, Eomma. Sambil kuliah aku bekerja di butik Nyonya Han. Tapi sekarang aku mengambil cuti.”
“Berhentilah dari pekerjaanmu. Hiduplah bersama Eomma dan Appa.”
“Tapi aku menyukainya, Eomma. Ijinkan aku tinggal di sini dan bekerja.”
“Baiklah, terserah kau saja.”
“Nah, Yoseob. Hari ini kau boleh libur dari kantormu.”
“Jinjja? Gomawo, Eomma!” Yoseob tersenyum girang.
“Tapi kau harus menemani Jieun kemanapun dia pergi hari ini!” perintah Nyonya Yang.
“MWO??!! Kenapa begitu? Aku tidak mau!”
“Kalau begitu silahkan bekerja dan bertunangan dengan Daeji! Eomma tidak peduli!”
“Ne, ne! Aku akan menemaninya!” ucap Yoseob cepat.
—–
Yoseob dan Jieun berjalan dalam diam. Yoseob benar-benar menuruti perintah Nyonya Yang untuk menemani Jieun seharian ini. Jieun pun hanya diam. Dengan atau tanpa Yoseob tak berpengaruh baginya. Ia bisa tetap bekerja dengan biasa.
“Tunggulah di cafe itu. Aku akan pulang jam 2 siang.” Ucap jieun saat akan masuk ke butik.
“Tidak bisakah aku menunggu di dalam butik?”
“Lalu, aku harus berkata apa pada Nyonya Han? Yang Nyonya Han tahu itu kau adalah tunangan Daeji, putrinya.”
“Baiklah, aku tunggu di sana. Cepatlah kembali sebelum aku mati kebosanan.”
“Kau tidak akan mati karena bosan, Yoseob. Tenang saja.”
“Whatever.”
Author POV End
Yoseob POV
Tidak bisakah aku masuk ke butik itu? Aku ingin melihat Jieun. Aku ingin melihat gayanya saat bekerja. Aku ingin melihat desainnya. Ngomong-omong soal desain, apa benar syal yang kubeli itu desainnya. Karena aku melihat di ujung syal itu ada tulisan Jieun. Meski samar dan tertutup motif lainnya, aku masih bisa membaca tulisan itu.
Jieun. Apa benar aku menyukainya? Hatiku terasa damai di dekatnya. Aku merasa senang dapat melihatnya. Aku merasa gembira berbicara dengannya. Sifatnya unik. Selalu ceria. Selalu tersenyum. Tapi dia sangat berbeda kalau marah. Aku masih ingat pertemuan pertama kami. Aku tahu ia membenci orang kaya. Tapi saat di dekatku, aku tidak merasa ia membenciku. Apa Jieun memiliki perasaan yang sama denganku? Kuharap iya.
Tadi, aku sempat bermain-main dengan Eomma. Aku tidak ingin menikah terlalu muda. Oh, c’mon! Aku baru 22 tahun. Itu masih muda, apalagi didukung dengan  wajahku yang baby face ini. Setidaknya, bukankah kami harus saling mengenal lebih lama? Kami baru bertemu dua hari, setidaknya beri kami waktu untuk lebih mengenal satu sama lain.
“OPPAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!” aduh, kenapa harus ada yeoja itu lagi?
“Annyeong, Daeji.” Sapaku dengan senyum yang dipaksakan.
“OPPA! JEONGMAL BOGOSHIPO!!!!” Daeji sontak memelukku.
“Ne, ne. Arasseo.”
“Kyaaa!!! Apa Oppa juga merindukanku?”
“Tidak, siapa bilang?”balasku cuek.
“Lalu kenapa Oppa ke sini? Apa Oppa akan ke butik?”
“Inikan cafe. Aku mau minum di sini. Tidak boleh??”
“Iya juga ya. Kalau begitu, ayo mampir ke butik Oppa? Apa Oppa sudah menemukan tuksedo yang cocok?”
“Ne, sudah. Kau bisa duluan kalau mau ke butik. Aku belum menyelesaikan minumku.”
“Oke. Annyeong, Oppa!” ucapnya dengan senyum berbinar bahagia.
Dasar yeoja itu, padahal kemarin aku sudah berbuat kasar padanya. Dia tetap saja lengket padaku. Apa salahku? Kenapa aku harus bertemu yeoja sepertinya? Apa salahku Ya TUHAN!!??
Aku menghirup harum kopi dan meminumnya. Setelahnya, aku sudah bangkit meninggalkan cafe. Aku ingin pergi ke butik. Aku ingin melihat Jieun yang sedang bekerja. Aku ingin melihat senyum ramah Jieun pada setiap pelanggan. Aku ingin lebih dekat dengan Jieun.
Aku mendorong pelan pintu butik, membuat lonceng-lonceng itu berbunyi kecil. Kuedarkan pandanganku mencari Jieun. Aku melihatnya sedang bersama seorang pelanggan di bagian gaun. Sosok Daeji belum terlihat. Semoga saja dia tidak berada di sini.
“Yoseob-ah!” pekik Nyonya Han dan membuat Jieun sontak melirik ke arahku.
“Ah, ahjumma!” aku memeluknya.
“Ada apa? Mau mencari apa? Atau siapa?” tanyanya dengan cepat.
“Aku hanya ingin melihat-lihat. Bolehkan?”
“Ne, boleh boleh. Apa perlu aku mencarikan pegawaiku untuk menemanimu?”
“Tidak buruk. Aku mau yang kemarin membantuku mencari tuksedo.”
“Baiklah. Jieun! Kemarilah!” Jieun yang merasa dipanggil segera menemui Nyonya Han.
“Ada apa Nyonya?” tanya Jieun.
“Temani Yoseob melihat-lihat di sini. Aku pergi dulu.”
Bisa kulihat raut wajah terkejut dari Jieun. Haha, gotcha! Sekarang aku bisa bersama Jieun sepuasku. Aku juga bisa mengerjainya, memarahinya, usil padanya sesuka hati karena di sini aku adalah pelanggannya. Yeah!!
Yoseob POV End
Author POV
Sudah tiga jam Yoseob berada di butik. Tapi tak satupun benda dibelinya. Ia hanya sekedar melihat-lihat dan mencoba. Dia hanya ingin membuat Jieun kerepotan. Ya, Yoseob berhasil membuat Jieun pontang-panting sana sini karena menuruti perintah Yoseob. Yoseob menyuruhnya mencarikan ini, mencarikan itu, bawakan ini, bawakan itu.
Jieun terduduk kesal. Badannya pegal dan sakit. Terutama kakinya yang memakai sepatu hak tinggi. Tumitnya lecet karena terus-terusan berlari. Jieun sedikit memijat kecil kakinya. Peluh diusapnya dengan lengan kemeja.
“Siapa suruh kau beristirahat?” Yoseob sudah berkacak pinggang di depan Jieun.
“Sebentar. Sebentar saja.”
“Kau tidak digaji untuk bermalas-malasan tahu!!” Yoseob menaikkan suaranya.
“YA!! Tahukah kau aku sangat lelah!!? Kakiku sakit berlarian ke sana kemari! Aku ini yeoja! Kau tidak bisa semena-mena padaku meski aku hanyalah pelayan! Aku memakai hak tinggi! Rasanya sangat menyakitkan!”
Untung saja saat itu keadaan sedang sepi. Tidak ada yang mendengar perdebatan mereka. Kalau Nyonya Han mengetahui hal ini, sudah dipastikan Jieun akan dipecat. Yoseob tertegun mendengarnya. Matanya melihat ke arah kaki Jieun. Lecet dan sedikit berdarah.
“Mian.” Ucap Yoseob pelan.
“Ne, gwaenchana.”
“Aku akan membeli semua baju yang kucoba tadi.”
“Jangan membuatku repot lagi, jebal.”
“Tidak, aku akan membawanya sendiri ke kasir. Tunggulah di sini sebentar.”
Sepuluh menit kemudian Yoseob sudah kembali di depan Jieun. Matanya menatap mata Jieun. Di tangannya ada sebuah plester. Yoseob berjongkok sambil membuka perekat plester itu. Dengan hati-hati ia menempelkannya pada luka di kaki Jieun. Jieun tertegun, tak percaya sosok Yoseob yang diketahuinya ternyata tak seburuk yang ia kira.
“Gomawo.” Lirih Jieun.
“Cheonma. Sebaiknya kau pulang saja.” Saran Yoseob.
“Tidak bisa. Aku masih dalam jam kerja.”
“Baiklah. Akan kutunggu, kau akan pulang satu jam lagi kan?”
“Ne.” Balas Jieun singkat.
—–
Yoseob kembali menunggu Jieun di cafe. Berharap Jieun segera pulang. Berharap melihat sosok Jieun di pintu butik. Yoseob terdiam sambil menatap ke arah pintu butik. Seseorang tampak keluar dari butik. Tapi, itu bukanlah Jieun. Melainkan Daeji. Yoseob memalingkan wajahnya berharap Daeji tidak melihatnya. Terlambat, Daeji sudah lebih dulu melihat Yoseob dan melambaikan tangannya.
“OPPA!! Kenapa tidak ke butik? Aku menunggumu!” pekik Daeji ketika sudah masuk cafe.
“Aku sudah tiga jam di sana. Kemana saja kau sampai tidak melihatku?” ucap Yoseob dengan sinis.
“Di ruangan Eomma. Kenapa Oppa tidak bilang padaku?” tanya Daeji polos.
“Tidak penting!”
“Oppa, besok adalah hari pertunangan kita. Aku sangat senang Oppa!”
“Biasa saja.” Gumam Yoseob.
“Oppa, besok kau harus tampil yang tampan! Karena aku akan menjadi tunanganmu yang cantik! Kita pasti sangat serasi besok!” Daeji bersorak girang.
“Oppa, aku sudah memilihkan cincin untuk kita. Cincin itu bagus sekali. Harganya juga mahal. Pasti itu akan serasi di jari kita.”
“Oppa, gaunku sangat indah. Warnanya putih gading. Ada hiasan bunga dan rendanya. Aku sangat menyukai gaun itu. Apa Oppa juga menyukainya?”
“Pulanglah.” Ucap Yoseob pelan.
“Mwo? Oppa menyuruhku pulang?” tanya Daeji dengan muka polos.
“Pulanglah. Istirahatkan. Siapkan dirimu untuk besok.”
“Baiklah, Oppa. Aku pulang dulu!” Daeji tersenyum riang.
Yoseob menghela napas. Sejujurnya ia juga tak tega pada yeoja polos itu. Tapi mau bagaimana lagi, kedua orangtuanya tidak menginginkan Daeji menjadi tunangan Yoseob. Dan Yoseob pun sebenarnya menolak pertunangan itu.
Author POV End
Jieun POV
Yang Yoseob. Pria yang cukup menarik. Tapi dia juga sangat menyebalkan! Aku tidak suka sifatnya yang satu itu. Tapi aku menyukai sifat lembutnya dan perhatiannya. Sepertinya dia juga sangat penyabar karena mau menungguiku selama berjam-jam.
Kulangkahkan kaki menuju pintu butik. Aku tak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Kasihan dia, terpaksa menemaniku seharian ini. Salahnya sendiri berbicara sembarangan. Punya mulut itu harus dijaga baik-baik. Kalau dampaknya pada diri sendiri sih tak apa, tapi kenapa dia harus membawa-bawa aku??
Lihat itu, Yoseob sedang melamun. Kalau begitu minumannya akan dingin, lebih baik kuminum saja. Daripada terbuang sia-sia seperti itu. Dengan cepat aku berjalan ke cafe itu. Menghampirinya yang masih setia dengan lamunannya.
“Hei, ayo pulang!” aku menepuk pundaknya pelan.
“Eh? Ne.” Jawabnya singkat dan berjalan mendahuluiku.
“Yoseob, bagaimana dengan Daeji?”
“Maksudmu?” ia bertanya balik.
“Apa kau memikirkan perasaannya? Daeji begitu mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.” Ucapku lirih.
Entah mengapa dadaku sangat sakit ketika mengatakannya. Aku merasa kasihan pada Daeji. Kuakui aku tidak menyukainya. Cenderung membencinya malah. Tapi aku masih memikirkan perasaannnya. Aku tidak bisa membayangkan perasaannya saat Yoseob menolaknya. Pasti hatinya akan begitu sakit. Sakit teramat dalam. Cintanya tulus untuk Yoseob. Aku tahu itu. Biarlah aku membunuh perasaan ini. Perasaan yang perlahan tumbuh di hatiku untuknya. Biarlah aku yang mengalah.
“Lalu? Apa maumu? Kau ingin aku melanjutkan pertunangan dengan Daeji?” tanya Yoseob yang membuatku tercekat.
“Molla. Aku hanya…” aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku.
“Hanya apa?” tanya Yoseob.
“Aku hanya tidak bisa membayangkan perasaannya. Pasti ia akan sangat sakit hati.” Setengah hati aku mengatakannya.
“Jadi, kau kasihan padanya?” Yoseob menarikku agar berhadapan dengannya.
“Ne.” Air mata mengalir di pipiku.
“Kenapa kau berpikiran seperti itu? WAE??” Yoseob mengguncang-guncangkan pundakku.
“Molla!” ujarku bohong.
“WAEYO? WAE, Jieun?”
Hening sesaat hingga aku mengambil napas.
“Aku masih bisa membunuh perasaanku, sebelum bertambah jauh. Tapi Daeji tidak.”
“Kau tidak bisa melakukan itu. Biarkanlah perasaanmu tumbuh. Kita akan bersama.”
“Tidak! Bukan begitu! Aku akan pergi. Bertunanganlah dengan Daeji. Bahagialah bersamanya.”
“Jieun, aku tidak bisa. Aku tidak bisa bersamanya.”
“Mianhae. Jeongmal mianhae, Yoseob.”
Sedetik kemudian aku sudah berlari. Berlari meninggalkan Yoseob dengan sejuta tanda tanya di benaknya. Aku tahu. Hatiku menolak ini. Aku ingin bersama Yoseob. Tapi aku tidak boleh egois. Daeji lebih mencintainya dari pada aku.
—–
Malam ini aku pergi dari Seoul. Meninggalkan kehidupanku di sana. Aku pergi tanpa jejak. Tak ada yang tahu dimana aku sekarang. Aku tidak kembali ke Gwangju. Aku pergi ke Busan. Menyendiri di desa pinggir pantai. Deburan ombak, bau pantai, ini begitu menyenangkan. Sebelum matahari terbit aku berjalan ke pantai. Udara sangatlah dingin. Aku mengeratkan mantel tipisku. Menghirup udara yang masih sejuk. Menenangkan pikiranku yang sangat rumit. Aku berjongkok. Tanganku menulis di atas pasir pantai yang begitu lembut.
사랑 참 아프다 너무 아프다
(Love really hurts, it hurts too much)
Perlahan, air mata kembali keluar. Melewati pipiku dan berakhir di daguku sebelum jatuh di pasir dan bercampur dengan pasir yang lembut. Matahari mulai terlihat di ufuk timur. Langit sudah lebih terang. Kuseka air mataku kasar. Aku harus kuat. Aku harus membuang perasaanku padanya. Aku harus dan aku bisa.
Dengan segenap kekuatanku aku bangkit. Menatap matahari yang memancarkan sinarnya memberi kehangatan pada dunia. Aku sudah mengalami berbagai hal yang jauh lebih menyakitkan dari ini dan aku tidak menangis sedikitpun. Kenapa? Kenapa cinta membuatku begitu rapuh? Biarlah aku hidup tanpa cinta. Aku tidak suka menjadi gadis yang cengeng. Aku selalu ingin menjadi gadis kuat. Tapi tidak bisa, tidak selamanya aku akan menjadi gadis kuat.
“What can i do?”
Jieun POV End
Author POV
Pukul tujuh pagi. Tapi Yoseob belum juga bangun dari tidurnya. Pikirannya kacau. Penampilannya kacau. Semua baginya kacau. Pulang tengah malam dengan mata sembab karena menangis. Suara habis karena terus-terusan berteriak frustasi. Bahkan dimanapun ia menoleh yang ada hanya bayang-bayang Jieun. Nyonya Yang dan Nyonya Song belum mengetahui hal ini. Mereka mengira semuanya akan berjalan lancar. Yoseob membatalkan pertunangan dengan Daeji dan akan bertunangan dengan Jieun.
Pukul sepuluh pesta pertunangan sudah dimulai. Entah bagaimana, Yoseob sudah tampil rapi dan mengesankan. Tidak tampak sisa keputus asaannya semalam. Menebar senyum sana sini seolah-olah ia bahagia. Padahal tidak. Hatinya tersiksa. Ia hanya ingin bersama Jieun, bukan Daeji.
Ketika tiba pada acara puncak, Yoseob dan Daeji naik ke atas sebuah panggung kecil bersama orang tua mereka. Nyonya Yang dan Nyonya Song tampak cemas karena Daeji tak terlihat di mana pun. Sedangkan Yoseob memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Dan akhirnya Yoseob sama sekali tidak menolak pertunangan itu. Karena Yoseob hanya bisa berkata ‘Ya’ atau ‘Hmmm’.
“Demi Jieun aku melakukan ini. Biarlah asal Daeji bahagia bersamaku. Ini adalah permintaan Jieun. Aku harus mengabulkannya. Karena Jieun, saranghae.”
END

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s