[Oneshoot] Oppa

Author  : PlisMe/ O-Tae

Cast       :

– Han Haemi

– Lee Donghae

– And Other Cast

Genre   : Sad

Author Note :

Satu lagi FF geje dari aku. Maaf kalo ceritanya ngawur, aneh, ga jelas, dan lain-lain. Mungkin agak bingung gara-gara banyak flashbacknya, jadi perhatiin waktu dan tempatnya, yang tulisannya miring berarti flashback. Yang tulisannya warna merah itu isi diarynya.

 

London, 14th February 2012

Haemi’s Apartment

Haemi membersihkan apartemen kecilnya dengan semangat. Meski hari ini adalah hari kasih sayang, dia tidak peduli dengan keadaannya yang tidak memiliki kekasih. Teman-temannya sibuk bergalau karena tidak mempunyai pacar ataupun sibuk berkencan dengan pacarnya. Tapi Haemi tidak peduli. Baginya, hari kasih sayang ini bukanlah sesuatu yang harus dirayakan. Kenangan masa lalunyalah yang membuatnya berpikiran seperti ini.

Haemi mulai sibuk memasukkan pakaiannya ke mesin cuci. Setelah mesin cuci mulai bekerja dia meninggalkannya dan menyapu ruang tengah. Dia menyapu dan merogoh-rogoh bawah sofa dan meja. Dia kaget ketika merasa menyentuh sesuatu yang keras. Ditariknya benda itu. Dia menunjukkan senyuman miris ketika melihat apa yang ada di tangannya. Diary-nya. Diary bersampul merah dan kertasnya seperti kertas tua. Air matanya mengalir ketika dia membersihkan debu di sampulnya. Perlahan dibukanya diary itu.

14 Februari 2009

Donghae Oppa memberikanku diary ini! Aku senang sekali! Apalagi warnanya merah, warna kesukaanku. Meski kebanyakan namja akan memberi boneka, coklat, atau bunga pada hari Valentine, Oppa memberikan sesuatu yang berbeda padaku. Kalau namja lain memberi sesuatu yang berwarna pink, Oppa memberikanku warna merah. Aku janji, aku akan mengisi diary ini hingga habis. Aku akan merawat diary ini baik-baik! Karena Donghae Oppa yang memberikannya. Hehe^^. Dan satu lagi, Oppa berniat menikah denganku! Besok kami akan ke Korea menjenguk Eommanya. Lalu datang ke orangtuaku. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.

—–

London, 14th February2009

                “Haemi, lihat apa yang Oppa bawa!” panggil Donghae sambil menunjukkan sebuah bungkusan.

“Apa itu Oppa?” Haemi merasa penasaran.

“Ini untukmu. Coba buka.” Donghae mengulurkan tangannya.

“Ne….” Haemi merobek kertas pembungkusnya dengan hati-hati.

“Bagaimana? Apa kau suka?” tanya Donghae.

“Joahae. Ini benar-benar bagus Oppa! Gomawo!” Haemi memeluk Donghae.

“Satu lagi, Oppa juga membelikanmu pulpen warna merah.” Donghae merogoh kantong celananya.

“Ah, ini cocok sekali dengan kertasnya! Aku akan menulis sesuatu di halaman pertama!” Hyemi mulai menulis.

“Kau menulis apa, Haemi?”

“Tunggu sebentar, Oppa. Nah, lihat ini!” Haemi dengan semangat menunjukkan tulisannya.

Diary ini milik Han Haemi. Atau mungkin akan menjadi Lee Haemi^^. Karena aku pasti akan menikah dengan Donghae Oppa! Aku benar-benar mencintai Donghae Oppa. Dia segalanya bagiku..

Donghae tertawa membaca tulisan itu. Tangannya mengacak-acak rambut Haemi membuat Haemi cemberut.

“Jangan tertawa Oppa! Juga jangan mengacak rambutku!” Haemi sibuk membenahi rambutnya.

“Mianhae, mianhae. Umm…. Haemi….” Donghae terlihat gelisah.

“Ada apa Oppa?” tanya Haemi.

“Eomma, meminta Oppa kembali ke Korea. Eomma sakit.”

“Omo! Ahjumma sakit? Sakit apa?”

“Aku juga tidak tahu Haemi. Besok aku akan pulang dan aku juga ingin membawamu.” Donghae menatap kedalam mata Haemi.

“Membawaku? Untuk apa Oppa? Nanti aku malah merepotkanmu.”

“Haemi, hubungan kita sudah berjalan dua tahun. Kita sudah saling menegnal sejak SMA. Aku ingin kita…. melanjutkan ke jenjang yang lebih.” Donghae menggenggam tangan Haemi.

“Oppa….” Haemi tersentuh.

“Haemi, aku akan memperkenalkanmu ke Eomma, lalu kita akan meminta restu padanya dan pada orangtuamu. Arraseo?”

“Ne, Oppa.” Haemi mengangguk dan memeluk Donghae.

Malam itu. Di hari kasih sayang. Mereka melewatkannya dengan berpelukan. Menyanyi bersama. Mengingat masa lalu ketika mereka SMA. Ketika mereka pertama bertemu. Ketika mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih.

—–

London, 14th February 2012

Thames River

Selesai membersihkan apartemennya, Haemi pergi ke pinggir Sungai Thames. Di sinilah banyak terjadi kenangan indahnya bersama Donghae. Haemi memutuskan untuk melanjutkan membaca diarynya di tempat ini. Meski matahari berada tepat di atas kepala, tetap banyak orang yang mengunjingi tempat ini. Kebanyakan mencari tempat berteduh seperti di bawah pohon atau hanya duduk-duduk.

Haemi duduk di salah satu bangku yang kosong dan menghadap Sungai Thames. Ia membuka diarynya dan kembali membaca.

15 Februari 2009

Sekarang aku masih berada di pesawat. Perjalanan ini begitu membosankan. Dulu, saat pertama kali datang di London, aku tidak menggunakan pesawat langsung dari Korea ke Inggris. Tapi aku mampir ke banyak negara. China, Perancis, Jerman, sempat kusinggahi sebelum akhirnya sampai di London. Mungkin nanti saat kembali ke London aku akan mampir ke negara-negara yang belum kukunjungi. Sudah kubilang kan ini begitu membosankan? Lihat, Donghae Oppa sudah tertidur dengan mulut yang terbuka. Haha… Dia begitu lucu. Aku akan memotretnya.

—–

Airplane, 15th February 2009

Haemi seorang yang membenci kesunyian dan kebosanan. Dia adalah tipe orang yang tidak bisa diam. Lima jam perjalanan telah berlalu dan Haemi telah menyelesaikan dua novel. Sebelum membaca novel ketiga, Haemi menyempatkan diri untuk menulis diarynya. Tak lupa sebuah foto Donghae sedang tertidur diambilnya dengan kamera polaroid kesayangannya. Foto itu diselipkannya di diarynya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Oh!” Haemi kaget karena ternyata Donghae bangun.

“Aku tampan kan? Makanya kau memotretku saat tidur.”

“Tidak, aku hanya memotretmu karena mulutmu terbuka. Wajahmu benar-benar aneh saat tidur dengan mulut terbuka seperti itu.”

“Bohong!”

“Siapa juga yang berbohong. Sudah, sana  tidur lagi. Jangan ganggu aku, aku mau membaca.” Haemi mengeluarkan sebuah novel dari tas kecilnya.

“Baiklah. Selamat membaca.”

“Selamat tidur.”

Dan Haemi pun kembali masuk ke dunia bacanya. Tanpa memperdulikan yang terjadi di sekitarnya. Lagipula dia juga memakai headphone-nya dan mendegarkan lagu-lagu dari Boyband favoritnya, BIG BANG. Boyband asal Korea yang begitu terkenal.

—–

London, 14th February 2012

With a cup of coffee

Haemi membeli secangkir kopi di kafe tak jauh dari Sungai Thames. Kopi membuat perasaannya hangat. Sejenak ia menerawang ke arah sungai. Lalu tiba-tiba ia tersenyum kecil mengingat masa lalunya. Haemi terus tertawa hingga matanya mengeluarkan air mata. Tak semua masa lalunya indah. Ada juga masa lalu menyakitkan. Seperti saat ia berpisah dengan Donghae. Saat hatinya begitu sakit. Meski telah mencoba melupakan itu semua, semuanya akan tetap terbayang di benak Haemi.

“Huufftt…..” Haemi menghela napasnya.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Haemi kembali membuka diarynya. Dibacanya satu per satu kalimat hingga air matanya kembali turun. Inilah salah satu kisah masa lalunya yang menyedihkan.

16 Februari 2009

Aku baru saja tiba di Korea dan langsung menjenguk Eomma Donghae Oppa. Bukan sikap ramah yang kudapatkan, tapi sakit hati. Eomma Donghae Oppa masih tetap menganggapku sebagai sahabat Donghae Oppa. Persahabatan kami sejak SMA—meski kami berbeda tingkat— membuat kami saling mengenal orangtua satu sama lain. Dan ternyata Eomma Donghae Oppa meminta Oppa pulang karena Oppa akan dijodohkan. Yeoja itu bernama Jessica. Dia sangat manis. Dia juga cantik. Tapi aku melihat dia adalah orang yang angkuh dan berambisi besar. Tatapan matanya saat melihatku….. dia terlihat dingin. Ice Princess.

—–

Mokpo, 16th February 2009

Donghae’s Home

Haemi dan Donghae melangkahkan kaki keluar dari mobil. Di hadapan mereka adalah sebuah rumah yang begitu megah. Layaknya istana. Tangan mereka bertautan seolah tak akan lepas. Di ruang tamu, mereka melihat Eomma Donghae tengah mengobrol dengan seorang yeoja yang duduk membelakangi mereka.

“Annyeong haseyo!!” sapa mereka berdua.

“Ah, annyeong. Donghae, Haemi.” Eomma Donghae bangkit dan menyambut.

“Eomma, nuguya?” taya Donghae menunjuk yeoja yang masih tetap dengan posisinya.

“Donghae, kau melupakannya. Dia….”

“Aku Jessica. Apakah Oppa masih mengingatku?” yeoja itu berdiri dan berbalik.

“Jessica?” gumam Haemi bingung karena tidak mengenal Jessica.

“Oppa, jeongmal bogoshipo! Apa Oppa tidak merindukanku?” Jessica memeluk Donghae.

“E…e, nado… bogoshipo.” Donghae membalas pelukan Jessica dengan canggung.

“Dan, siapa namamu eonni?” tanya Jessica dengan tatapan angkuhnya.

“Han Haemi imnida.” Jawab Haemi cuek.

“Jessica, jangan panggil dia eonni.” Kata Donghae.

“Kenapa? Dia terlihat seumuranmu Oppa.”

“Dia lebih muda darimu.”

“Benarkah? Tapi dia terlihat tua di mataku Oppa.”

Saat itu juga rasanya Haemi ingin memukul muka Jessica yang sok polos dan innocent itu. Matanya selalu membesar dan membuatnya selucu mungkin saat menatap Donghae. Itu hanya satu poin yang membuat Haemi tidak menyukainya.

“Ayo kita duduk dulu. Haemi,ini teh untukmu.” Eomma Donghae datang dan membawa secangkir teh untuk Haemi.

“Ne, ahjumma.””

“Eomma, apakah Eomma benar-benar sakit? Sepertinya Eomma sangat sehat bugar.”

“Eomma sudah sembuh karena mendengar kau akan benar-benar pulang. Kau tahu, Eomma begitu merindukanmu.”

“Lalu, untuk apa aku kembali?” tanya Donghae.

“Baiklah, Eomma akan katakan sekarang. Haemi, kau tak apa kan mendengar kabar ini?”

“Tentu saja, ahjumma. Aku tidak keberatan.”

“Eomma ingin menjodohkanmu dengan Jessica. Eomma ingin kau segera menikah.”

“MWO???!!!” kaget Donghae dan Haemi.

“Seelama ini kan kau tidak pernah memperkenalkan pacarmu pada Eomma, jadi Eomma berniat menjodohkanmu dengan Jessica.”

“Tapi Eomma, aku…”

“Ahjumma, saya permisi dulu. Donghae, Jessica, chukaeyo.” Haemi bangkit dan berpamitan.

“Aigoo… kenapa cepat sekali?” tanya Eomma Donghae.

“Aku ada janji dengan teman lamaku. Annyeong.” Haemi berusaha menahan air matanya yang mendesak turun.

“Haemi! Jamkanman!” Donghae berusaha mengejar Haemi.

“Hei, sudahlah Hae. Haemi ada janji. Duduklah dan kita bicarakan pernikahan kalian.” Tahan Eomma Donghae.

“Ne, Eomma.” Donghae hanya bisa pasrah.

—–

London, 14th February 2012

Cry

Tangis Haemi semakin deras. Tangannya menutupi wajahnya. Dia berusaha agar tangisnya tidak terdengar. Memori-memori masa lalunya terus berputar seperti kaset film rusak. Matanya tetap tak henti mengeluarkan air mata. Akhirnya, setelah beberapa lama, Haemi menghetikan tangisnya. Tangannya menyeka air mata di wajahnya. Haemi menguatkan hatinya dan kembali membaca.

16 Februari 2009

Rencana kami gagal total. Tak apalah, percuma aku mempertahankan semuanya. Donghae Oppa tetap akan menuruti kemauan Eommanya. Biarlah seperti ini. Meski aku kecewa. Meski hatiku sakit. Aku akan menerima semuanya. Masih ada namja lain di luar sana. Atau mungkin aku bisa meminta Eomma untuk menjodohkanku dengan seseorang. Mungkin saja namja itu lebih baik dari Donghae Oppa. Ah!!!! Apa yang kupikirkan??? Donghae Oppa adalah namja terbaik. Aku bingung sekarang. Seseorang tolong aku.

—–

Seoul, 16th February 2009

Haemi’s Home

Begitu sampai di rumahnya yang tak kalah megah dengan Donghae, Haemi segera naik ke kamarnya. Di kamarnya ia menangis menumpahkan segala kekecewaan hatinya. Tak peduli seberapa keras tangisnya. Haemi terus menangis. Biarlah. Biarlah sekali ini Haemi menangis.

‘Oppa, jeongmal saranghaeyo.’ Ucap Haemi dalam hati berulang kali.

Meski rasanya sakit. Sakit sekali. Haemi berusaha tegar. Tidak peduli apa yang terjadi, Haemi akan tetap tersenyum ke depan. Donghae akan menikah dengan Jessica adalah keinginan Eomma Donghae. Bukan atas dasar cinta Donghae dan Jessica. Mungkin saja Jessica mencintai Donghae. Tapi tidak dengan Donghae. Donghae mencintai Haemi.

London, 20th February 2009

Haemi’s Apartment

Haemi tampak sibuk membersihkan apartemennya. Barang-barang yang berkaitan dengan Donghae dimasukkannya ke satu kotak yang sangat besar. Terkecuali diary yang diberikan Donghae. Setidaknya ada satu benda yang ingin disimpannya. Haemi ingin mengubur kenangannya tentang Donghae. Mungkin ia dapat menghilangkan benda-benda yang berhubungan dengan Donghae dari jangkauannya. Tapi dia tidak akan bisa menghilangkan memorinya tentang Donghae.

“Haemi, FIGHTING!!!” ucap Haemi menyemangati dirinya sendiri.

Haemi memasukkan kotak besar itu ke dalam gudang. Tak lupa mengunci pintu gudang. Dengan berat hati, Haemi melakukan semuanya. Tapi Haemi ikhlas. Demi Eomma Donghae.

“Oppa, goodbye. Gomawo.” Ucap Haemi lirih lalu kembali menangis.

Sore itu hujan turun. Seakan turut merasakan kesedihan Haemi. Hujan itu sedikit mententramkan hati Haemi. Ada hujan yang menemaninya menangis. Setidaknya ia tidak sendirian.

—–

London, 14th February 2012

Haemi menyeka air matanya yang lagi-lagi jatuh. Itu semua sudah berlalu. Biarlah sekali ini saja Haemi kembali mengenang masa lalunya. Sekali ini saja. Tiga tahun sudah berlalu. Haemi mendengar Donghae menikah dengan Jessica pada 14 February 2010. Mungkin sekarang mereka sudah memiliki keluarga kecil yang hangat.

“Oppa, really miss you.”

Haemi beranjak dari duduknya.Menghela napas panjang dan mulai berjalan dengan langkah yang pasti. Tekadnya sudah bulat. Akan sepenuhnya melupakan masa lalunya bersama Donghae. Masih banyak kisah menanti untuk ditulis. Mungkin akan ada banyak diary-diary menanti untuk ditulis. Diary-diary itu akan tetap menunggu. Menunggu goresan pena yang tertuang di atas lembaran-lembaran diary. Menunggu seseorang berbagi kisah dengan diary.

Bruukk…

“Ah, mianhae…. Ups, sorry!” Haemi tak sengaja menggunakan bahasa korea.

“It’s okay. Are you korean?” tanya seorang yang tak sengaja bertabrakan dengan Haemi, seorang namja.

“Ne, aku orang korea.” Jawab Haemi.

“Ah, ternyata kita sama. Boleh aku tahu siapa namamu?”

“Han Haemi imnida. Bangapseumnida.” Haemi menundukkan badannya.

“…….. imnida. Bangapseumnida.” Namja itu tersenyum manis.

‘Oh, GOD. Senyumnya manis sekali. Dia juga tampan.’

 

 

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s