[Part 1] 7 Days With Kim Myungsoo

Author : dugeunkyoo

Cast : you-will-know-it-later

Genre : ?

Author Note : Buat MEDI, mian yah lama banget. Banyak banget halangan buat bikin FF pesenan kamu. File kehapus, netbook rusak, nilai jeblok, les, peer seabrek, pokoknya jadi lama banget! MIAN yah! Semoga kamu masih setia nunggu ini dan part selanjutnya. Ini ga akan jadi sad kok. Semoga sesuai keinginan kamu ya! Ini juga pendek banget. Trus itu posternya jelek banget ya? Pokoknya MIAN & GOMAWO!

—–

Lagi-lagi aku menghela nafas. Aku bosan sekali di sini. Sama sekali tidak ada hiburan yang menyenangkan. Hanya televisi dan sebuah jendela. Dari jendela ini aku bisa melihat keluar. Ke taman rumah sakit dan penuh dengan pasien-pasien. Pemandangan yang monotone dan hanya ini yang bisa kudapatkan. Aku dilarang keluar, entah mengapa, padahal penyakitku tidak parah. Hanya thypus kok. Hanya berjalan-jalan keluar apa salahnya?

“Aku bosan!” pekikku.

Kusambar sebuah bingkai foto di meja samping tempat tidur. Foto Infinite. Aku melihatnya, lalu tersenyum. Infinite merupakan semangatku. Saat aku mulai lelah dengan kehidupan ini, mereka seakan menyemangatiku. Dengan lagu-lagu mereka. Huah! Mereka benar-benar daebak. Aku sungguh menyukai lagu mereka ‘Before The Dawn’ dan ‘Be Mine’.

“Annyeong, Micha!”

“Oh, ne, annyeong chingu!” balasku senang.

Teman dekatku, Jina, datang mengunjungiku. Aku senang, karena setidaknya aku mendapat teman bicara. Aku sudah terlalu capek berbicara sendiri. Seperti orang gila saja.

“Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah membaik?” tanyanya.

“Ne, sudah lebih baik. Aku ingin cepat kembali ke rumah dan sekolah.”

“Sabarlah, tunggu sampai benar-benar sembuh. Dan ada kabar buruk.”

“Apa?” tanyaku tak sabar.

“Myungsoo Oppa masuk ke rumah sakit. Kemarin saat perform ia pingsan. Dan ia pun dibawa ke rumah sakit, tapi tak ada yang tahu dimana dia dirawat. Wartawan terus mencari tahu.”

“Benarkah? Kasihan sekali Myungsoo Oppa, semoga ia cepat sembuh!” aku segera berdoa untuk Myungsoo Oppa, idolaku itu.

“Kau juga harus cepat sembuh!”

“Iya-iya, aku bosan sekali di sini. Aku samasekali tidak boleh keluar kamar, menyebalkan sekali bukan?”

“Bosan dalam dua hari? Memang di rumah sakit itu membosankan, tapi cobalah untuk bersenang-senang di sini.”

“Bersenang-senang bagaimana? Ini rumah sakit tau!” aku mengerucutkan bibirku.

“Lihat apa yang kubawa,” Jina mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Wuah! Laptopku! Gomawo Jina!” aku berseru kegirangan.

“Aku sudah mengisi laptopmu dengan perform, variety show, CF, dan apapun tentang Infinite. Aku tahu kau terlalu malas untuk merekam semua itu. Jadi semua rekamanku kumasukkan ke situ, termasuk perform kemarin saat Myungsoo Oppa pingsan. Puas-puaskanlah melihat semua itu,” Jina menepuk pundakku.

“Gomawo, Jina! Gomawo!” aku masih setia memeluk laptopku.

“Aku pulang dulu ya… Sudah senja. Beristirahatlah dengan baik, cepat sembuh!” Jina beranjak keluar.

“Ne,” aku tersenyum pada Jina.

Aduh, aku sungguh mengkhawatirkan keadaan Myungsoo Oppa. Semoga ia baik-baik saja dan hanya kelelahan biasa. Sudah hal biasa seorang idol jatuh pingsan karena kelelahan. Tapi biasanya wartawan akan berhasil menemukan dimana artis teresebut dirawat. Jika perusahaan menyembunyikannya, mungkin ini lebih dari kelelahan biasa. ANDWAE!! Myungsoo Oppa harus dan pasti baik-baik saja. Aku akan selalu berdoa untuknya.

“Micha! Tebak apa yang eomma bawa!” tiba-tiba saja eomma sudah berada di depan pintu.

“Apa eomma?” tanyaku penasaran.

“Tadah!” eomma mengacungkan dua lembar kertas yang tampak seperti tiket.

“Itu… apa? Kenapa kecil sekali?”

“Kau ingin tahu?” eomma mendekatkan kertas itu padaku.

“Ne!” aku ingin mengambilnya tapi eomma sudah menariknya.

“Berterima kasihlah pada eomma saat kau melihat ini. Oke?”

“Ne!” eomma membuka telapak tanganku dan meletakkan kertas itu di telapak tanganku, lalu eomma menutupnya kembali sehingga sekarang aku menggenggamnya.

“Bukalah,” eomma berbisik.

Aku membuka tanganku dan membaca tulisan pada kertas tersebut. Mataku seketika melotot. Aku tak percaya. Ini adalah dua buah tiket fanmeeting Infinite yang diselenggarakan 20 hari lagi. Setahuku tiketnya baru akan dijual seminggu sebelumnya dan hanya 125 fans beruntung yang bisa mendapatkannya. Fanmeeting ini eksklusif dan akan berlangsung seharian. Dan juga 7 fans beruntung bisa makan malam dengan Infinite. Halo, siapa juga yang tidak mau? Fans-fans Infinite sudah dipastikan akan mengantri berjam-jam demi mendapatkan selembar tiketnya. Sedangkan aku, tib-tiba saja eomma sudah membawa tiket fanmeeting ini, dua pula! Aku sungguh-sungguh amat sangat beruntung!!

“Bagaimana eomma mendapatkan ini?!” seruku.

“Tidak penting!”

“Ayolah eomma!! Aku ingin tahu bagaimana eomma bisa mendapatkan tiket ini!”

“Adalah, kau tidak perlu tahu,” eomma masih menolak.

“Eomma….” aku memasang wajah memelasku.

“Baiklah, baik. Dengarkan eomma baik-baik, oke?” aku mengangguk. “Jadi eomma pergi ke Woolim, eomma memaksa bertemu oleh manager Infinite. Eomma mengatakan padanya kalau kau sekarang sedang sekarat di rumah sakit dan sangat ingin bertemu dengan Infinite. Jadi eomma ingin memberikan tiket fanmeeting padamu agar kau mendapat semangat. Manager itu percaya dan memberikan tiket ini pada eomma. Bahkan CEO Woolim yang mendengar hal ini mengatakan akan membawa Infinite menjengukmu tapi eomma tolak. Bagaimana? Apa eommamu ini pintar?”

“Eomma jjang!” aku tersenyum lebar dan memberikan dua jempolku.

“Lalu, mana ucapan terima kasihmu?”

“Oh, ne! GOMAWO, eomma! GOMAWO!” aku berteriak dan mencium pipi eomma.

“Kalau begitu eomma pulang dulu ya, masih banyak pekerjaan yang belum eomma selesaikan. Annyeong!”

“Annyeong!” aku melambai.

Eomma adalah single parent. Pekerjaannya sebagai editor di majalah ternama. Sejak kecil, eomma selalu berusaha memenuhi permintaanku. Tapi eomma tidak pernah memanjakanku, ia selalu mengajarkanku mandiri. Eomma juga sangat mengerti diriku. Ia tahu aku menyukai Infinite maka ia membelikanku tiket ini. Eomma saranghaeyo.

Braakk….

Tiba-tiba saja pintu kamarku sudah terbuka. Menampakkan sesosok dengan hoodie hitam. Kepalanya menunduk. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Siapa dia? Aku tak merasa mengenalnya.

“Nuguya?” tanyaku.

“Eoh, ini bukan kamarku?” tanyanya dengan polos, ia pun menaikkan kepalanya. OMO! Itu Myungsoo Oppa. Atau aku hanya salah melihat?

“Tentu saja bukan! Ini kamarku! 112! Berapa nomor kamarmu!” jawabku dengan ketus.

“112 ya… Kamarku nomor… 112… 121… 211… 221… Ah! Nomor 122!” ia menepuk jidatnya.

“Sudah ingat kan? Kembalilah ke kamarmu!” usirku.

“Tidak mau, aku malas ke sana. Aku di sini saja, setidaknya ada dirimu yang bisa kuajak berbicara,” Ia duduk di kursi samping tempat tidurku.

“Terserahlah!” jawabku acuh, padahal jantungku sudah berdetak tak karuan. Namja ini tampan sekali! Benar-benar mirip Myungsoo Oppa!

“Mingsoo imnida, siapa namamu?” oh, namanya Mingsoo. Berarti ia memang bukan Myungsoo Oppa. Tapi nama dan wajah mereka, sungguh mirip.

“Micha imnida.” Aku tersenyum padanya.

“Kau cantik.”

“Ne?” tanyaku tak percaya.

“Ya, kau cantik. Sangat cantik malah. Aku tak pernah melihat yeoja secantik kau.” Pujinya.

“Hah.. Jangan berbohong!” aku memukul pundaknya.

“Aku tak bohong!”

“Jangan merayu!”

“Aku tidak merayu! Kau tahu? Hidupku dikelilingin yeoja-yeoja kurang gizi yang sangat kurus dan menyebalkan dan juga genit! Pertama kalinya aku melihat yeoja yang normal adalah kau.”

“Baiklah… Baiklah… Terserah kau saja. Lalu, kau sakit apa??” tanyaku pada Mingsoo.

“Thypus… Karena kelelahan dan maag.” Jawabnya sambil mengangguk-angguk.

“Benarkah? Aku juga thypus!” ucapku semangat. “Tapi sepertinya kau lebih baik dariku. Aku sama sekali tak boleh keluar kamar,” Ucapku murung.

“Orangtuamu hanya khawatir padamu. Tidak apa-apa. Aku akan ke sini setiap hari. Kita bisa mengobrol bersama,” janjinya.

“Janji?” aduh, sifat kekanakanku keluar lagi. Aku mengulurkan kelingkingku padanya.

“Ne!” ia mengaitkan kelingkingnya dan mengacak-acak rambutku.

“Hahahahaha!!” kami tertawa bersama karena sifat kami yang anak-anak sekali.

“Kalau begitu, sekarang aku harus kembali ke kamar. Gomawo.”

“Untuk apa?”

“Untuk membuatku tersenyum lagi.” Mingsoo tersenyum. Manis. Sangat manis. Senyumannya membuatku terpana hingga tak sadar bahwa Mingsoo sudah pergi.

 

~TBC~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s