[Part 2] 7 Days With Kim Myungsoo

Author : dugeunkyoo / babyz519

Cast : Kim Myungsoo, Shim Micha

Genre : ?

Author note : Cihuy! Part 2 yang keluarnya setahun! Hehehe ^^

Myungsoo’s POV

Karena kemarin aku pingsan saat perform, aku harus dilarikan ke rumah sakit. Dan ternyata aku terkena thypus. Dokter berkata maagku sudah sangat parah ditambah aku kelelahan dengan jadwal Infinite yang cukup padat karena kami baru saja comeback. Tapi sebenarnya ada alasan lain.

Sebelum comeback, kami di Infinite sempat bersitegang. Dorm kami dibobol dan kami saling menyalahkan satu sama lain. Aku menjadi sering tak fokus dan sering lupa makan. Bahkan, kami masing belum bisa memaafkan satu sama lain. Kami seakan dibagi dua kubu. Aku, Sungyeol Hyung, Sungjong, dan Sunggyu Hyung dalam satu kubu. Kami memilih untuk tidak menyalahkan satu sama lain dan meminta damai. Dongwoo Hyung, Hoya hyung, dan Woohyun Hyung menyalahkan Sungjong yang memang keluar terakhir dari dorm. Suasana menjadi sangat kacau saat itu. Kami hanya terlihat kompak saat di depan kamera saja.

Aku bosan hanya berada di kamar, maka aku memutuskan untuk keluar kamar sebentar. Hanya untuk berjalan-jalan di taman menikmati sore. Pasien di taman ini kebanyakan kakek-nenek. Sedikit sekali namja atau yeoja seusiaku, di usia awal 20-an. Mungkin saja aku bisa mengajak mereka mengobrol untuk membunuh waktu. Tapi, jika aku mengajak mengobrol, mereka pasti tahu aku ini member Infinite dan akan memberitahu wartawan. Huh! Merepotkan saja.

Eits! Siapa itu? Yeoja itu sangat cantik. Ia termenung menghadap ke taman. Mungkin ia melamun karena sepertinya ia tidak sadar aku memperhatikannya dari sini. Aku suka padanya! Aku tahu wajah itu alami, jauh dari pisau-pisau bedah yang menyeramkan yang banyak dipakai yeoja masa kini. Menyeramkan.

Aku masih setia mengamatinya hingga aku menyusun sebuah rencana untuk berkenalan dengannya. Dan aku juga menyusun rencana agar ia tidak tahu kalau aku ini L Infinite. Aku mulai mengira-ngira nomor kamarnya. Mungkin sekitar kamar nomor 100-120. Tidak terlalu jauh dari kamarku. Aku hanya perlu mengecek nama pasien di depan pintunya. Dan aku bisa berpura-pura salah kamar. GOTCHA! Aku memang pintar. Sebaiknya aku menunggu sampai hari sedikit malam.

“Myungsoo Hyung!” terdengar teriakan dari ujung taman, aku menoleh.

“Sssttt!!”

“Mian, hyung!” ternyata itu Sungjong yang datang mengunjungiku.

“Ada apa?”

“Aku hanya bosan. Dorm lebih kacau, hyung. Sekarang kan sudah imbang, tiga-tiga,” Sungjong menghela nafas.

“Memangnya apa saja yang terjadi?” tanyaku penasaran.

“Sunggyu Hyung sudah meminta kubu sebelah untuk melupakan kejadian itu. Lagipula tak ada barang yang hilang kan? Mungkin itu hanya fans iseng.”

“Lalu kubu sebelah melakukan apa?”

“Mereka membantah Sunggyu Hyung. Mereka tetap bersikeras membuat Sunggyu Hyung sedih. Sungyeol Hyung hanya bisa membantu menghibur Sunggyu Hyung. Aku jadi ikut sedih,” Sungjong curhat padaku.

“Sudahlah, nanti mereka juga akan sadar sendiri kok.”

“Tapi, hyung… Aku sangat membenci keadaan seperti ini. Kita… tidak akan pecah kan?”

“Tentu tidak, Sungjong. Tenanglah saja, semuanya akan kembali seperti semula.”

“Arraseo, hyung. Gomawo,” Sungjong tersenyum.

“Ne.”

“Hyung, aku pulang saja ya… Gomawo, hyung,” Sungjong berjalan sedikit menjauh.

“Kenapa cepat sekali?” tanyaku, kehilangan teman bicara.

“Kasihan Sunggyu Hyung kalau ditinggal sendirian. Sungyeol Hyung sedang keluar tadi.”

“Hati-hati!” aku melambai.

Ya ampun… Sebegini kacaukah Infinite? Apakah kami akan terus bertahan? Aku juga jadi ikut sedih mendengarnya. Kasihan Sunggyu Hyung… Karena dia leader, pasti dia yang akan disalahkan. Ini juga hanya masalah biasa, yang penting tidak ada barang yang hilang. Hanya memang beberapa barang pribadi kami menjadi berantakan. Aku berpikir mungkin itu sasaeng fans atau hanya fans yang sekedar iseng.

Tak terasa aku berpikir terlalu lama. Matahari sudah pergi dan berganti dengan bulan dan bintang. Aku pun memutuskan untuk menghampiri yeoja yang tadi. Tentu saja aku sangat penasaran padanya. Kupakai hoodie dan menunduk. Mulai dari kamar nomor 100 aku sudah melihat-lihat. Ternyata sangat mudah menemukan kamarnya karena pasien di kamar nomor seratusan sangat sedikit. Aku melihat namanya di pintu, Shim Micha, kamar nomor 112.

Aku masuk. Berpura-pura salah kamar. Sedikit berbincang dengannya. Sampai aku memutuskan untuk kembali. Dan sepertinya ia memang tidak menyadari kalau aku ini Kim Myungsoo atau L Infinite. Aku mengenalkan diri dengan nama Mingsoo. Aku senang bisa berekanalan dengannya. Di tengah kegalauan akan Infinite, aku bahagia bertemu dengannya.

Myungsoo’s POV End

Author’s POV

Matahari sudah mulai tinggi. Tapi seorang yeoja bernama Shim Micha masih bergelung di selimutnya. Tak peduli kalau hari sudah siang. Ia tak memiliki semangat untuk bangun sedikitpun. Memakai headset dan menyenandungkan lagi Infinite keras-keras. Sesekali berteriak pada bagian kesukaannya. Ia tak menyadari kalau seseorang sedang melihatnya dari pintu. Myungsoo tersenyum melihat Micha. Ia tersenyum saat tahu Micha menyukai Infinite tapi tak menyadari bahwa ia adalah member Infinite.

“Annyeong haseyo, Micha!” ucap Myungsoo sedikit keras.

“Oh! Annyeong Mingsoo!” Micha dengan cepat melepas headsetnya.

“Bagaimana harimu? Lebih baikkah?” tanya Myungsoo sambil duduk di kursi sebelah ranjang Micha.

“Ne!” ucap Micha dengan semangat. “Karena ada Infinite!” ia menunjukkan handphone-nya yang masih memutar lagu Infinite.

“Kau Inspirit ya?” tanya Myungsoo.

“Tentu saja! Aku ini Inspirit sejati! Aku selalu dan akan mendukung Infinite! Apa kau… fanboy?”

“Fanboy?” Myungsoo sedikit berpikir. “Ne, aku fanboy Infinite.”

“Benarkah?! Waah… akhirnya aku bertemu fanboy Infinite! Kau menyukai siapa di Infinite?” tanya Micha lebih bersemangat.

“Aku menyukai Myungsoo! Lalu kau suka siapa?”

“Aku juga suka Myungsoo Oppa!! Eh, selain menyukai Myungsoo Oppa, wajahmu juga mirip Myungsoo Oppa. Apa kau melakukan operasi plastik agar mirip Myungsoo Oppa?” tanya Micha sambil melihat dan memegang wajah Myungsoo dari dekat. “Tapi ini alami sekali. Kalau operasi plastik berarti dokternya benar-benar hebat.”

“A.. aniyo.. Ini alami kok,” Myungsoo menjauhkan wajanya. Sedari tadi jantungnya berdetak lebih cepat melihat wajah Micha dari dekat.

“Oh… Kau juga memiliki nama yang mirip dengan Myungsoo Oppa,” Komentar Micha.

“Aku juga tidak tahu… Mungkin ini takdir kalau aku dan Myungsoo mirip.”

“Ah, sudahlah, kenapa malah membahas kemiripanmu dengan Myungsoo Oppa!”

“Hehehe…” Myungsoo hanya meringis.

“Kalau begitu ayo kita jalan-jalan ke luar!” Micha beranjak dari ranjangnya.

“Kau kan tidak boleh keluar kamar?” Myungsoo mengingat perkataan Micha semalam.

“Biarkan saja. Setidaknya saat ini aku memiliki kau yang bersamaku. Aku hanya ingin berjalan-jalan keluar sebentar saja,” Pinta Micha.

“Baiklah, kita berjalan mengelilingi rumah sakit saja ya, lalu ke taman sebentar. Bagaimana?”

“Oke!” Micha menunjukkan tanda oke dengan tangannya sembari tersenyum ceria.

Mereka berdua saling menautkan jari. Erat, sangat erat. Myungsoo merasa saat ini Micha adalah tanggung jawabnya. Ia adalah teman Micha, maka ia harus melindungi Micha. Myungsoo membimbing Micha untuk berjalan pelan-pelan. Sudah tiga hari Micha tak berjalan banyak, maka ia menjadi sedikit kaku. Apalagi ia juga sedikit lemas.

Mereka samasekali tak tahu bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang. Seseorang itu berjalan mengendap mengikuti setiap langkah Micha dan Myungsoo. Sesekali orang itu mengambil foto mereka berdua.

“Mingsoo, aku boleh memanggilmu Oppa kan?”

“Tentu saja boleh, memang kenapa?” Myungsoo balik bertanya.

“Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Oppa. Aku tak pernah memiliki teman untuk kupanggil Oppa.” Ucap Micha sedikit sedih.

“Benarkah? Kenapa bisa begitu?”

“Aku selalu canggung dengan namja. Aku hanya berhubungan dengan teman namja seperlunya saja. Aku juga cukup menutup diri dari namja di sekitarku.”

“Lalu, appa-mu?”

“Karena itulah aku canggung dengan namja, karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang appa. Tapi… entah mengapa saat aku bersama Mingsoo Oppa, aku merasakan hal lain. Aku merasa sangat nyaman dan merasa terlindungi. Sebuah perasaan yang tak pernah kurasakan dan tak bisa kudeskripsikan. Hanya saja… terasa sangat berbeda dengan biasanya,” Ucap Micha dengan lirih.

“Micha, mianhae… Aku tak tahu.”

“Ne, gwaenchana. Ini sudah biasa Oppa. Oppa, tetaplah bersamaku. Aku menyayangi Mingsoo Oppa,” Micha tiba-tiba memeluk Myungsoo.

“Ne, ne. Kau tak usah khawatir. Oppa akan selalu bersamamu,” Myungsoo balas memeluk  Micha. Saat itulah Myungsoo sadar. Ia telah jatuh cinta pada Micha. Gadis yang sederhana dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang appa.

“Oppa! Ayo kita ke taman!” Micha menarik tangan Myungsoo dengan erat. Entah ia mendapat kekuatan dari mana.

“Ne, tidak usah cepat-cepat, nanti kau jatuh,” nasehat Myungsoo.

“Ne, Mingsoo Oppa!” Micha tersenyum lebar.

Myungsoo dan Micha duduk di salah satu bangku taman. Mereka saling berbagi cerita. Tapi lebih banyak Micha yang bercerita dan Myungsoo yang mendengarkan.

“Oppa, apakah kau sudah pernah bertemu dengan Infinite member?”

“Belum, memangnya kau sudah pernah?” Myungsoo balik bertanya.

“Pernah! Tapi aku bertemu dengan Sungyeol Oppa dan Sungjong Oppa, bukan dengan Myungsoo Oppa!”

“Kau sudah bertemu dengan Myungsoo sekarang, Micha…” ucap Myungsoo dalam hati. “Kalau begitu ceritakan padaku.”

“Aku masih ingat sekali kejadian itu, belum lama terjadi kok. Aku pulang dari tempatku belajar menari sekitar pukul enam sore, hari sudah cukup gelap. Lalu aku mampir sebentar di kedai pinggir jalan untuk makan jajangmyeon dan aku melihat Sungyeol Oppa dan Sungjong Oppa sedang makan jajangmyeon juga. Hatiku berteriak kegirangan tapi aku tetap diam. Aku tahu mereka butuh privasi, tapi mereka tahu aku memperhatikan mereka. Jadi mereka menyapaku dan memberiku tanda tangan. Kami juga mengambil foto. Mereka baik sekali!”

“Benarkah?? Mereka baik sekali… Lalu apakah kau menyebarkan foto dan cerita tersebut?” banyak fans yang berhasil bertemu dengan seorang idol dan fans itu pasti akan menyebarkan ceritanya dari mulut ke mulut maupun dengan internet agar Kpopers di seluruh dunia mengetahuinya.

“Tidak, bahkan sahabatku yang bernama Jina tidak tahu. Hanya kau yang tahu.”

“Apa kau masih menyimpan foto dan tanda tangannya? Aku ingin melihatnya.”

“Fotonya ada di handphone-ku, tapi aku meninggalkannya di kamar. Tanda tangan mereka ada di notes kesayanganku, di kamar juga.”

“Nanti kau harus menunjukkannya padaku ya. Tadi kau bilang kau belajar dance, ayo menari The Chaser!” Myungsoo berdiri.

“Di taman rumah sakit?” Micha melihat sekeliling. “Kau gila ya?” ia ragu-ragu.

“Tentu tidak, ayo menari bersamaku, Micha….” pinta Myungsoo dengan mencoba membuat aegyo.

“Aegyomu gagal Oppa,” ejek Micha. “Tapi aku akan menari denganmu, tapi tarianku jelek…”

“Tidak apa-apa, kita hanya mencoba kok…” Myungsoo mengeluarkan handphone dan memutar The Chaser.

Micha mulai menggerakkan badannya mengikuti irama. Pada awalnya ia sedikit kaku tapi lama-lama ia menjadi santai. Myungsoo menari dengan biasa, hanya tidak seserius biasanya. Mereka menari dengan kompak. Beberapa pasien dan perawat sempat menoleh ke arah mereka. Meski keduanya sakit, mereka tetap enerjik.

Seseorang masih setia mengikuti mereka. Ia mengeluarkan kamera dan merekam Myungsoo dan Micha yang menari The Chaser. Seringaian muncul di wajahnya.

“Gotcha!” ucapnya pelan.

Sementara itu seorang wanita paruh baya melihat Micha dan Myungsoo yang menari. Ia tersenyum. Micha memiliki seorang teman lelaki. Mereka pun terlihat sangat senang. Ia terharu melihatnya. Tak apa bila Micha melanggar perintahnya. Tak apa Micha keluar dari kamar. Ia tak akan memarahi Micha. Ia bahagia. Melihat Micha berteman dengan seorang namja. Ia eomma Micha.

“Micha…” eomma mendekati Micha dan Myungsoo.

“Eomma! Mianhae! Aku melanggar perintah eomma!” Micha kaget melihat eommanya.

“Gwaenchana…” eomma mengelus rambut Micha.

“Ahjumma, mianhae, aku yang mengajak Micha keluar kamar,” Micha menoleh tak percaya pada Myungsoo.

“Gwaenchana… Tak apa,” eomma tersenyum.

“Gomawo, ahjumma,”

“Eomma akan ke kamar, kalian di sini dulu tidak apa-apa, hati-hati,”

“Eommamu baik,” ucap Myungsoo setelah eomma pergi.

“Benarkah? Aku juga merasa ia sangat baik. Karena hanya eoma yang aku punya,” Micha tersenyum miris.

“Sudah… jangan sedih lagi,” Myungsoo mengacak rambut Micha.

“Jangan diacak!”

Do you hear me?

Do you hear me?

Myungsoo melirik handphone-nya. Menyentuhkan jarinya sekilas dan mendesah.

“Micha, mianhae. Aku harus kembali ke kamar. Ayo, kita bersama-sama masuk,” Mingsoo kembali menggandeng tangan Micha.

~END 1st DAY~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s