[Story] Layang-Layang

Author Note : cerita ini dibuat untuk tugas bahasa indonesia, karena kekurangan ide nama, aku memutuskan memakai nama Jello dan Jaeko, yaitu plesetan dari ZELO B.A.P dan ZICO Block B. Mohon maklum. #backfromhiatus

—–

Jello dan Jaeko adalah sahabat. Mereka selalu bersama. Semua orang di komplek mengenal mereka. Karena kejahilan dan kenakalan mereka. Mereka sering sekali mengganggu anak-anak yang lebih kecil. Misalnya memecahkan balon, mengambil bola atau mainan lainnya, ataupun mengambil permen hingga membuat anak-anak kecil itu menangis. Tapi mereka sebenarnya anak yang baik. Mereka melakukannya karena tak memiliki teman sebaya.

“Jello, apa kau tak bosan?”

“Bosan apa?” Jello balik bertanya.

“Kita bermain berdua terus. Aku ingin punya teman lain juga.”

“Oh, begitu. Tapi anak-anak lain tidak suka pada kita karena kita usil. Mereka juga lebih sering bermain Play Station di dalam rumah.”

“Bagaimana kalau kita mengajak mereka bermain di luar? Sepertinya seru. Mereka juga harus mencoba permainan di luar.”

“Bermain di luar? Ide bagus. Ah, aku ada ide. Kita ajak mereka bermain layang-layang. Permainan yang cukup menyenangkan dan tak membuat lelah,” usul Jello.

Jaeko tak menjawab. Ia tampak berpikir keras. Lalu ia menarik tangan Jello ke rumahnya. Ia menunjukkan tumpukan kertas dan bilah-bilah bambu. Jello dengan cepat mengerti maksud Jaeko. Mereka akan membuat layang-layang sendiri.

Keesokan paginya, Jello dan Jaeko bersepeda berkeliling komplek. Tak sengaja mereka bertemu dengan kelompok anak-anak yang sebaya.

“Hai!” sapa Jello dan Jaeko.

“Haiiii…..” balas anak-anak itu.

“Ini sudah masuk liburan panjang kan? Apa kalian mau bermain bersama kami? Bermain layang-layang?” tanya Jello.

Mereka berpandangan, “Kami mau, tapi kami tidak punya layang-layang,”  jawab salah satu dari anak-anak itu.

“Akan kami bawakan. Kalian hanya perlu datang nanti sore ke lapangan timur komplek.”

“Baiklah.”

Sekitar pukul empat sore, saat matahari sudah tak terlalu panas, Jello dan Jaeko berjalan ke lapangan dengan membawa dua puluh layang-layang untuk anak lain dan dua layang-layang untuk mereka sendiri. Layang-layang yang beraneka warna dan motif. Di lapangan sudah banyak anak-anak yang berkumpul. Mereka bersorak melihat Jello dan Jaeko dan berebutan memilih layang-layang masing-masing.

“Ini untuk kalian. Dua puluh layangan dan sepuluh ribu untuk gantinya,” seorang anak mengulurkan lembaran-lembaran uang.

“Tidak. Tidak usah. Gratis saja. Kita kan teman,” tolak Jaeko.

“Kalian tidak boleh menolak. Meskipun kita teman, tapi tidak enak jika tidak membayar layang-layang ini. Sepuluh ribu kan banyak. Terima kasih sudah mengajak kami bermain layang-layang. Aku pikir ini lebih menyenangkan dari Play Station. Kalian juga tak sejahil yang kami kira.”

“Baiklah. Aku dan Jaeko akan mengambil ini. Kami juga senang bisa bermain bersama kalian.”

Ketika anak itu pergi, Jello dan Jaeko bertatapan. Mereka menepuk tangan senang. Masing-masing mendapat lima ribu. Jumlah yang lumayan untuk ditabung. Lalu Jello dan Jaeko menerbangkan layang-layang masing-masing.

Matahari hampir terbenam. Jello dan Jaeko menyudahi bermain sore ini. Bersama anak-anak lain, besok mereka akan bermain bersama lagi. Belum sepuluh langkah yang Jello dan Jaeko ambil, mereka dicegat seorang lelaki asing.

“Halo, perkenalkan saya Mr. William,” laki-laki itu berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih.

“Ini Jaeko dan saya Jello. Ada apa sampai-sampai Mr. William mencegat kami?”

“Langsung saja ya, saya terkesan dengan layang-layang kalian. Kalau boleh, apa saya bisa memesan?”

“Benarkah? Kalau kami sanggup akan kami lakukan. Lagipula ini liburan panjang jadi kami memiliki banyak waktu.”

“Bagaimana kalau layang-layang raksasa tiga buah? Yang lebarnya hampir satu meter? Dan lima belas layang-layang ukuran standar? Tenggat waktunya dua minggu lagi.”

Jello dan Jaeko saling melirik, “Bisa!” ucap mereka bersamaan.

“Baiklah, saya hanya butuh yang beraneka warna. Model dan lain-lain kalian tentukan sendiri. Ini uang muka dan kartu nama saya. Hubungi saja saya.”

“Lima puluh ribu terlalu banyak,” ucap Jello.

“Tak apa, itu pantas untuk kalian anak-anak yang melestarikan permainan yang sudah hampir hilang. Nah, ini sudah malam. Pulanglah dan kerjakan semuanya besok ya.”

“Ya! Terima kasih Mr. William!”

Jaeko dan Jello kembali senang. Mereka menari-nari karena senang. Mereka akan mendapat uang lagi untuk tabungan mereka. Layang-layang membawa berkah untuk mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s