[Part 3] My Everything – HunHan (with KaiSoo)

Author : dugeunkyoo

Title : My Everything

Cast : Sehun, Luhan, Krystal, Eomma Sehun

Genre : Yaoi (Genderswitch)

Disclaimer : milik orangtua masing-masing, milik Tuhan, milik saya hanya FF ini

Author Note : THIS FANFICTION IS GENDERSWITCH! DON’T LIKE DON’T READ!

Buat BEBEK, selamat ulang tahun ya😀

Happy reading! Sorry for typos!

—–

“Maafkan aku eomma. Aku tidak sanggup lagi… Aku menyukai Sehun…”

“Lu, eomma ingin menjadi eomma-mu yang sebenarnya, bukan hanya karena kamu memanggilku eomma.”

–My Everything Part 3–

“Apa maksud eomma?” tanya Luhan bingung, masih menangis.

“Mau bagaimana lagi, Lu. Eomma sudah mengenalmu sama lamanya dengan Sehun mengenalmu. Eomma mengerti sifatmu, eomma tahu dirimu luar dalam. Eomma yang merawatmu, bahkan lebih dari orang tuamu. Eomma tahu hatimu tulus,” eomma tersenyum.

“Tapi Sehun menyukai yeoja lain, eomma.”

“Apa kau akan terus menunggunya?”

“Aku tidak tahu. Jika aku benar-benar tidak kuat, aku akan melupakan Sehun.”

“Eomma akan membantumu, Lu…”

“Gwaenchana, eomma. Aku tidak ingin memaksa Sehun menyukaiku. Jika Sehun menyukai yeoja lain, biarkan Sehun bahagia dengannya eomma,” Luhan memegang tangan eomma.

“Lu…”

“Ani, gwaenchana. Aku benar-benar baik-baik saja eomma. Aku akan senang, jika Sehun senang,” Luhan berusaha tersenyum.

“Tetaplah bersama Sehun, sampai saatnya kalian tidak bisa bersama lagi,” pesan eomma.

“Aku tidak akan membiarkan Sehun pergi sampai Sehun menemukan yeoja yang tepat,” janji Luhan.

“Kau tahu Luhan, sebenarnya kami merencanakan perjodohan untuk kalian berdua,” eomam menghela napas.

“Kami?” tanya Luhan.

“Bersama orang tuamu. Kami sudah bersahabat sejak kami remaja. Kami berjanji akan menjodohkan anak-anak kami, yaitu kau dan Sehun.”

“Lalu?”

“Kami tidak pernah membicarakan masalah itu lagi. Apalagi orang tuamu berada di luar negeri dan sulit dihubungi. Tapi eomma masih berharap Sehun akan bersama denganmu nantinya. Ini sudah 20 tahun, ikatan kalian terlalu kuat.”

“Aku juga merasakannya, eomma. Persahabatan ini sudah melangkah lebih jauh bagiku.”

“20 tahun bukan waktu yang singkat. Kalian selalu bersama. Tidak pernah ada masalah di antara kalian. Kalian selalu rukun. Kalian sudah seperti saudara,” eomma tersenyum getir.

“Saudara… Sehun hanya menganggapku sebagai saudara,” ucap Luhan lirih.

—–

Sehun memenuhi trolinya dengan snack. Persediaan di apartemennya juga sudah habis. Ia dan Luhan memiliki hobi makan. Kulkas mereka selalu penuh dengan berbagai macam makanan. Luhan juga pandai membuat berbagai kudapan. Memastikan mereka tak akan kekurangan makanan.

Ia mengantri di belakang seorang namja dan yeoja. Tapi tampaknya ia mengenal namja itu. Apalagi ketika namja itu menoleh.

“Kai!” panggil Sehun.

“Sehun?” Kai menoleh, menyadari Sehun di belakangnya.

“Hei, siapa itu?” Sehun menunjuk yeoja yang meliriknya dari balik pundak Kai.

“Ini Kyungsoo. Kyungsoo, ini Sehun.”

Mereka berjabat tangan. Sehun hanya bisa menatap aneh ke arah Kyungsoo. Yeoja ini tampak biasa saja jika dibandingkan pacar Kai yang lainnya. Setahunya, tipe Kai adalah yeoja dengan S-line, tinggi semampai, elegan, dan tentu saja kaya. Namun Kyungsoo terlihat sangat berbeda. Apa ada yang salah dengan Kai?

“Mampirlah sebentar ke rumahku,” ajak Sehun.

Kai melirik Kyungsoo. “Apa kau mau mampir sebentar?”

“Tidak apa-apa,” jawab Kyungsoo.

“Baiklah. Kau bersama Luhan kan?”

“Tentu saja. Dengan siapa lagi? Kau tahu sendiri kan tadi aku menunggu Luhan.”

“Kyungsoo pasti senang jika bertemu Luhan.”

“Dia sudah pernah bertemu Luhan?” tanya Sehun bingung.

“Luhan membantunya mencariku.”

“Kyungsoo itu siapamu?”

“Rahasia!” ucap Kai lalu mencium kilat pipi Kyungsoo.

Sehun hanya memandangi Kai dan Kyungsoo yang terlihat sangat dekat. Dan mesra. Entah mengapa ia memikirkan tentang Luhan. Sudah cukup lama sejak Sehun dan Luhan pergi berjalan-jalan berdua.

“Kalian jangan membuatku iri!” Sehun menyenggol bahu Kai.

“Kau kan punya Luhan!” goda Kai.

“Luhan bukan pacarku,” tanpa Sehun sadari, suaranya berubah kecewa. “Aku tidak punya pacar.”

“Jangan repot-repot mengejar Krystal,” bisik Kai pada Sehun. Sehun menatapnya tak mengerti.

Sepanjang perjalanan, Kai terus merangkul bahu Kyungsoo. Mereka tampak bahagia. Melupakan Sehun di belakang mereka yang hanya bisa mengumpat pelan. Kai bukanlah tipe namja yang peduli. Ia tidak pernah pergi dengan yeojachingu-nya dengan berjalan kaki. Selalu dengan mobil. Kai juga irit bicara pada yeojachingu-nya. Tapi tetap saja, Kai adalah idola. Semua yeoja tentu ingin bersamanya. Meski Kai adalah playboy dan bisa dipastikan pacarnya selalu lebih dari dua. Sehun benar-benar penasaran, siapakah Kyungsoo? Kenapa mereka begitu dekat?

“Annyeong haseyo,” sapa Kai dan Kyungsoo.

Luhan dan eomma menoleh, mendapati Kai dan Kyungsoo. Eomma yang tak mengenal Kyungsoo hanya mengerutkan keningnya.

“Ne, annyeong haseyo,” balas Luhan dan eomma.

“Eomma, Luhan, ini Kyungsoo,” ucap Sehun.

“Aku sudah mengenalnya,” jawab Luhan.

“Omo, omo… Namamu Kyungsoo? Kau cantik sekali,” eomma berdiri dan menghampiri Kyungsoo.

“Ne, ahjumma. Do Kyungsoo imnida.”

“Ayo duduk!”

Sehun dan Kai duduk bersebelahan menghadap Luhan dan Kyungsoo. Eomma berada di antara Sehun dan Luhan.

“Kai sudah lama tidak main ke sini. Apa Kyungsoo yeojachingumu?” tanya eomma.

“Ani! Kyungsoo tunanganku,” jawab Kai dengan senyum lebar.

“Jinjja??” ucap Sehun dan Luhan bersamaan.

“Benarkah itu Kyungsoo? Sejak kapan?” tanya Luhan.

“Benar, sejak aku dan Kai kelas 2 SMA,” Kyungsoo menjawab dengan malu-malu.

“Sudah lama sekali, tapi mengapa Kai tidak pernah mengenalkanmu padaku?” tanya Sehun.

“Sudah satu tahun kami tidak bertemu,” balas Kai.

“Kyungsoo, darimana asalmu?” Luhan menoleh ke arah Kyungsoo.

“Ah, aku dari Mokpo.”

“Lalu bagaimana dengan pendidikanmu?” tanya eomma.

“Aku tidak kuliah. Jongin tidak memperbolehkannya. Dua tahun terakhir, aku hanya bekerja dan mengambil beberapa kursus.”

“Kenapa kau jahat sekali padanya, Kai? Setidaknya biarkan Kyungsoo kuliah!” marah eomma.

“Aku hanya ingin Kyungsoo mengurusku dengan baik saat kami menikah. Kyungsoo tidak perlu bekerja, aku saja,” bela Kai.

“Apa Kyungsoo tidak bersedih? Teman-temannya pergi kuliah dan ia tidak?”

“Awalnya iya, tapi lalu aku mulai menerimanya. Mau bagaimana lagi, Kai meminta begitu.”

“Ah, Kyungsoo… Kau baik sekali,” puji Luhan.

“Kyungsoo, apa kau tahu Kai itu playboy?” tanya Sehun membuat Kai memelototkan matanya.

“Ne, Jongin sudah menceritakannya padaku.”

“Aku sudah memutuskan mereka semua!” ucap Kai cepat.

“Bagaimana dengan Sohee?”

“S-Sudah!”

Ketika perbincangan mereka terus berlanjut, Luhan menyadari ia belum menghidangkan minuman untuk kedua tamu. Ia permisi dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Luhan tak sadar, Sehun mengikutinya di belakang. Ketika ia mengaduk minuman, Sehun memeluknya dari belakang. Dagu Sehun disandarkan pada bahunya. Tangan Sehun melingkar di pinggangnya.

“Sehun!”

“Sebentar saja, Lu,” ucap Sehun membuat Luhan terdiam.

“Wae?” bisik Luhan.

“Melihat Kai dan Kyungsoo membuatku memikirkan kita. Aku iri pada mereka.”

“Mengapa iri?”

“Mereka sudah menemukan orang yang mereka cintai. Aku ingin bertemu jodohku, aku ingin bahagia.”

“Apa selama ini kau tidak bahagia denganku, Hun?”

“Bukan begitu, Lu.”

Luhan terdiam. Airmata mulai turun melewati pipinya. Ia menangis tanpa suara. Kalau terus begini, hatinya akan semakin sakit.

“Kenapa menangis, Lu?”

“Kai dan Kyungsoo pasti lama menunggu,” Sehun mengerti, ia melepas pelukannya.

“Lu,” Luhan menoleh. “Saranghae,” bisik Sehun.

“Nado saranghae,” balas Luhan pelan.

—–

Jumat pagi, Luhan sedang menyiapkan sarapan ketika mendengar ketukan di pintu. Sejak semalam, berita sudah ramai tentang badai yang akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Masyarakat sudah diperingatkan untuk tidak keluar rumah. Sekolah sudah pasti diliburkan. Dan Luhan heran kenapa ada orang yang mau bertamu disaat akan badai seperti ini. Luhan membuka pintu dan kaget mendapati Krystal di depan pintu. Lengkap dengan pakaian tebal, sepatu boot, topi, dan tas besar.

“Annyeong haseyo, eonni! Aku akan menginap di sini hingga badai selesai!”

“Eo?” Luhan masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.

“Kata Sehun Oppa aku boleh menginap.”

“Masuklah,” ucap Luhan pada akhirnya.

“Dimana aku bisa meletakkan barangku, eonni?” tanya Krystal sembari melihat-lihat.

“Taruh saja di sofa. Sehun belum pulang, ia sedang pergi membeli makanan.”

Krystal menaruh tasnya di sofa dan ia duduk. Mengamati seisi apartemen Sehun dan Luhan. Apartemen ini tidak terlalu kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Ada dua kamar, satu kamar mandi, dapur beserta ruang makan yang cukup luas, dan tempat dimana ia duduk sekarang, ruang tengah. Ruang tengah adalah ruang terbesar dan merupakan pusat rumah. Ada sofa raksasa karena ukurannya sangat besar, karpet berbulu yang hangat, dan tv yang besar. Dinding penuh dengan berbagai foto. Krystal berdiri dan mengamati lebih dekat.

Kebanyakan foto adalah foto Sehun dan Luhan berdua. Banyak sekali foto mereka dimana kebanyakan mereka tertawa lebar. Bahkan ada foto semasa keduanya masih bayi. Ketika akhirnya Krystal menyadari, foto-foto ini disusun sesuai umur. Ada tulisan angka di setiap pigura. Dari satu hingga dua puluh, umur Sehun dan Luhan sekarang. Sebuah foto menarik perhatian Krystal, tertanda umur 15 tahun. Di foto itu, Luhan terlihat mengenakan gaun putih seperti gaun pengantin dan Sehun memakai tuksedo hitam. Tangan Luhan menggenggam sebuket bunga berwarna pink dan tangan Sehun melingkar di pinggang Luhan. Mereka terlihat benar-benar bahagia, dan benar-benar serasi. Keduanya tersenyum ke arah kamera dengan manis.

“Melihat apa?” tanya Luhan dari ruang makan.

“Hanya melihat-lihat foto kalian berdua, eonni. Banyak foto lucu,” jawab Krystal.

“Kami memang suka berpose aneh,” tawa Luhan.

Bahkan kini Krystal merasa tawa Luhan cantik. Ia merasa iri pada yeoja yang tengah menata meja itu. Luhan telaten mengerjakan pekerjaan rumah, Luhan cantik, Luhan yeoja yang pandai, dan Luhan sudah mengenal Sehun lama sekali. Krystal membayangkan, andai ia Luhan.

“Lu! Aku pulang!” tampak Sehun di depan pintu menenteng dua tas plastik besar.

“Krystal sudah datang!”

“Oh? Annyeong, Krystal!” sapa Sehun.

“Annyeong haseyo, Oppa! Gomawo sudah memperbolehkanku menginap,” Krystal tersenyum lebar.

“Gwaenchana! Ayo sarapan bersama!” ajak Sehun.

Krystal berjalan menuju ruang makan. Meja sudah penuh dengan berbagai masakan. Dari baunya saja Krystal yakin makanan itu pasti sangatlah lezat. Masalahnya hanya satu, kursi di meja makan hanya ada dua. Padahal di sini ada tiga orang.

“Mianhae, Krystal, akan aku ambilkan kursi,” ucap Luhan dan berlari mencari kursi.

Mereka bertiga duduk di mengelilingi meja yang berbentuk bulat. Sehun memimpin doa dan mereka memejamkan mata, memulai doa. Krystal bahkan tidak ingat kapan terkahir kali ia berdoa sebelum makan. Biasanya ia akan sarapan dalam perjalanan ke kampus, makan siang saat pulang, dan makan malam di restoran. Eonni-nya terlalu sibuk hanya untuk menyempatkan makan dengannya.

“Aku belum pernah mengalami badai. Apalagi katanya ini badai terbesar dalam beberapa tahun,” ucap Luhan memulai pembicaraan.

“Di Amerika sering terjadi badai, saat liburan di sana, aku terkena badai. Listrik padam dan semua orang panik. Untungnya tidak banyak korban jiwa,” balas Krystal.

“Benarkah? Aku sedikit takut. Semoga badai ini tidak bertahan lama.”

“Tidak akan,” ucap Sehun tenang.

“Kalau boleh aku bertanya, dimana aku bisa tidur?” Krystal tahu ia terkesan tidak sopan, tapi hanya ada dua kamar di sini.

“Kita pikirkan nanti,” jawab Sehun singkat.

“Makanan kita cukup kan? Semua baju sudah diambil dari laundry? Apa kau sudah membersihkan kamarmu? Kau sudah merapikan buku belum?” tanya Luhan beruntun.

“Aku membeli banyak snack untuk persediaan, Lu. Tidak ada baju kotor. Kamarku sudah rapi. Dan aku juga sudah menata buku di rak.”

“Apa kalian sudah selesai makan?” tanya Luhan membuat Sehun dan Krystal cepat-cepat menghabiskan makanan mereka. “Aku akan mencuci piring,” Luhan mengambil piring kotor di meja dan beranjak ke dapur.

Sehun mengajak Krystal untuk duduk di depan televisi. Mereka tampak mengobrol sedangkan Luhan sibuk mencuci piring. Beginilah Luhan, yang selalu memperhatikan kebersihan apartemennya. Ia mengabaikan Sehun dan Krystal, memilih untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Sudah sekitar tiga bulan Sehun dekat dengan Krystal. Beberapa kali mereka pergi bersama, ke toko buku atau ke cafe. Hampir setiap hari Sehun pulang dengan Krystal, Luhan mengambil bus untuk pulang. Sehun juga memiliki rutinitas baru, menjemput Krystal. Luhan merasa, Sehun mulai menjauh dari dirinya. Prioritas Sehun kini adalah Krystal, bukan dirinya. Mereka memang belum berpacaran, tapi mereka akan berpacaran.

Luhan menahan tangis. Setidaknya Sehun tertawa dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup untuknya. Sudah 20 tahun mereka bersama, itu lebih dari cukup. Pastilah Sehun sudah bosan dengan dirinya, pikir Luhan. Sehun pantas mendapatkan yang lebih baik dari dirinya, pikirnya lagi.

Sementara di luar, Sehun dan Krystal menonton film. Sejujurnya Sehun kurang menyukai genre film romantis dan terlalu drama, tapi Krystal menyukainya. Sehun dan Luhan menyukai genre yang sama, membuat mereka bisa menonton film dengan nyaman. Mereka lebih menyukai sci-fi, action, fantasy, dan sebagainya. Sehun hanya bisa menatap aneh ke layar televisi. Ia bingung dengan jalan cerita film ini. Sebelumnya si tokoh tertawa-tawa dengan pacarnya lalu kenapa malah sekarang si tokoh menangisi pacarnya? Ketika Sehun menoleh, ia mendapati Krystal sedang memegang tisu. Tampak menangis. Dan lalu terlihat tulisan ‘The End’ di layar televisi. Sehun menghela napas lega.

“Krys, sekarang aku yang memilih film, oke?” tanya Sehun.

“Jangan oppa! Masih banyak daftar film yang ingin kutonton!” Krystal menujukkan beberapa DVD yang dibawanya.

“Kita kan sudah melihat film-mu. Sekarang film-ku. Lalu nanti film-mu lagi.”

“Aniyo!”

“Ayolah Krys… Ini film kesukaanku dan Luhan. Ceritanya bagus. Kau pasti suka!”

Mendengar nama Luhan disebut, Krystal seakan tersadar. Ia harus menjadi seperti Luhan agar Sehun menyukainya. Luhan adalah role modelnya mulai dari sekarang. Sebaiknya ia mulai meniru Luhan.

“Baiklah!” putus Krystal pada akhirnya. Menyukai Sehun memang butuh perjuangan karena Sehun tentulah masih dalam bayang-bayang Luhan.

“Yeay!” Sehun tersenyum senang dan mulai memasukan DVD.

Sekarang Krystal lah yang tampak bingung. Cerita sci-fi tidak cocok dengan dirinya. Butuh banyak pemahaman. Dan menurutnya semua ini tidak masuk akal. Prinsip hidupnya adalah realistis, karena itu ia menyukai drama picisan yang menurutnya sangat masuk akal di kehidupan. Tidak perlu berpikir banyak untuk menonton drama. Krystal hanya bisa menatap kesal.

“Bagaimana film-nya? Apakah bagus?” tanya Sehun ketika film sudah berakhir.

“Bagus sekali oppa! Aku menyukainya, apa genre favoritmu?”

“Yang berbau fantasy atau action, atau yang mengangkat tema kehidupan, yang memiliki banyak pesan moral.”

Itu sama sekali bukan tipe Krystal.

“Oooh.”

“Hey, sudah mulai hujan,” Sehun menunjuk ke arah jendela. “Aku akan bersiap sebentar.”

Sehun mulai membawa lampu emergency ke ruang tengah. Juga beberapa selimut dan bantal.

“Untuk apa itu?”

“Hanya untuk berjaga-jaga,” Sehun melirik ke arah jam dinding. “Sudah waktunya makan siang, aku akan meminta Luhan memasak.”

Krystal mencatat dalam pikirannya, ia harus belajar memasak seperti Luhan. Dan juga ia harus bisa memasak makanan favorit Sehun.

“Lu!” Sehun mengetuk pintu kamar Luhan.

“Lu! Buka pintunya!”

“Sudah waktunya makan siang, aku lapar!”

“Lu! Lu! Lu! Han Deer! Ayolah!”

‘Han Deer? Apa itu?’ pikir Krystal.

“LUUUUUU!!!”

“Aku bangun!” teriak Luhan lalu pintu terbuka dengan keadaan Luhan yang baru bangun tidur. Rambutnya acak-acakan. Sehun mengangkat tangannya, merapikan rambut Luhan.

“Ayo masak.”

“Ne.”

Lima belas menit kemudian, Luhan menyajikan makanan di meja. Porsinya sedikit lebih banyak dari tadi pagi. Hanya saja menunya lebih sederhana. Ketika mereka selesai berdoa, terdengan suara bel. Luhan berlari untuk membuka pintu diikuti Sehun dan Krystal hanya melirik ke arah pintu.

“Gege! Aku merindukanmu!” Luhan mengucapkan sesuatu dalam bahasa cina.

~TBC~

One thought on “[Part 3] My Everything – HunHan (with KaiSoo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s