[Part 10] My Everything – Hunhan

Author : dugeunkyoo

Title : My Everything

Cast : Sehun, Luhan, Krystal, Kris, Jongin, Kyungsoo, and other

Genre : Genderswitch

Disclaimer : milik orangtua masing-masing, milik Tuhan, milik saya hanya FF ini

Author Note : THIS FANFICTION IS GENDERSWITCH! DON’T LIKE DON’T READ!

Sorry for typos! Happy reading!

등골브레이커

Sehun memandang Krystal dengan terkejut. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Krystal akan mengatakan itu padanya. Ia kira, ia yang harus menjadi seorang yang jahat. Namun semuanya tak terduga. Bagaimana bisa Krystal yang lebih dulu mengucapkan kata perpisahan.

“Krys..”

“Aku tak sebodoh itu, oppa. Oppa dan Luhan Eonni, aku bisa melihat itu di mata kalian.”

“Krys.. Ya ampun, Krys… Maafkan aku.”

“Oppa tak perlu meminta maaf! Ini bukan salahmu, aku baik-baik saja.”

“Krys… Aku benar-benar tak tahu…”

“It’s okay. Really.”

“Apa aku menyakitimu, Krys?” Krystal hanya menggeleng lemah. “Lalu siapa namja itu? Namja yang kulihat bersamamu kemarin?”

“Mwo?”

“Aku melihatmu bersama seorang namja. Kau masuk ke mobil namja itu.”

“Ah itu,” Krystal terdiam, berpikir, “Seunghoon Oppa.”

“Apa kau menyukainya?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Oppa, aku harus pergi,” ucap Krystal cepat sebelum Sehun menanyainya lebih banyak hal.

Meskipun Krystal tampak kuat, namun begitu ia hilang dalam jarak pandang Sehun, ia hampir menangis. Krystal berlari, menjauhi EXO Bubble Tea. Ketika ia menemukan taman bermain, ia berjongkok dan menangis.

“Shhhh, uljima,” Krystal merasakan seseorang memeluknya, ia mendongak.

“Seunghoon Oppa?”

“Jangan menangis, Krys. Jangan bersedih.”

“Oppa.. Katakan aku melakukan hal yang benar,” pinta Krystal di sela tangisnya.

“Kau melakukan hal yang benar. Kau bagaikan cupid untuk Sehun dan Luhan.”

“Namun rasanya sakit sekali, oppa… Beginikah sakitnya kebenaran?”

“Kau melakukan hal yang benar. Kau harusnya merasa senang kan? Kau lebih cantik jika tersenyum, Krys.”

“Aku ingin melihatmu tersenyum,” lanjut Seunghoon.

“Aku ingin kau selalu tersenyum, Krys.”

등골브레이커

Sehun masih tidak percaya. Kata-kata yang keluar dari mulut Krystal, masih sulit untuk dipercaya.

“Apakah Krystal baik-baik saja?” gumamnya.

Namun Sehun harus mengakui, bahwa Krystal benar-benar berani. Ia tak menyangka. Krystal bahkan mengatakan kalau ia melihat bagaimana Sehun mencintai Luhan.

“Apakah semua orang berpikiran sama? Apakah semua orang mengetahui aku menyukai Luhan?”

Hati Sehun kacau. Meskipun bukan ia yang memutuskan berpisah, namun ia merasa sangat bersalah. Pastilah Krystal sangat tersakiti.

“Apa yang harus kulakukan?”

Yang harus Sehun pikirkan sekarang adalah, bagaimana ia akan menghadapi Luhan. Bagaimana ia akan menjelaskan perasaannya kepada Luhan.

“Apakah aku juga akan menyakiti Luhan?”

“Dimana Luhan sebenarnya? Dimana Luhan bersembunyi?”

Saat itulah terlintas dalam pikirannya, sekelibat memori saat Luhan dan Sehun masih kanak-kanak. Luhan kecil dan Sehun kecil yang senang bermain di alam. Mereka yang senang berlarian dan bermain air saat masih kecil. Mereka yang masih polos dan semuanya tampak begitu indah.

Sehun mengingat tempat dimana ia habiskan sebagian besar weekendnya saat ia masih kecil. Di gunung, ia menyukai pemandangan dari ketinggian. Tepatnya di vila keluarga Luhan.

“Apakah Luhan di sana?”

Ia bergegas pergi dari EXO Bubble Tea. Memutuskan untuk pergi mengecek tempat itu. Memastikan apakah perasaannya benar.

Sepanjang perjalanan, Sehun mencoba untuk tenang. Jika ia masih ingin hidup untuk bertemu Luhan, ia harus menyetir dengan penuh konsentrasi.

“Mengapa aku tak menyadarinya lebih dulu! Bodoh!” rutuk Sehun pada dirinya sendiri.

Sehun tiba di vila sekitar pukul satu siang. Namun ia berhenti tak jauh dari vila. Ia tak ingin Luhan menyadari kehadirannya, kalau benar Luhan ada di vila. Sehun memarkir mobilnya dan berjalan menuju vila. Keyakinannya menguat ketika ia melihat mobil Kai di depan vila.

Sekilas, Sehun melihat siluet beberapa orang melalui jendela. Namun sepertinya mereka belum menyadari kehadiran Sehun.

Sehun berjalan semakin pelan mendekati vila. Tangannya terangkat, siap untuk mengetuk. Namun sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu telah terbuka terlebih dahulu.

Mata Kyungsoo membulat ketika melihat Sehun yang berdiri di depannya. Ia mendorong Sehun dan ia menutup pintu dari luar. Tubuh mungil Kyungsoo menyeret Sehun ke balik mobil Kai, agar tak terlihat dari dalam rumah.

“Bagaimana kau ada di sini?” bisik Kyungsoo pelan. “Kai tidak memberitahumu kan?”

“Tentu saja tidak. Aku menghabiskan masa kecilku di sini juga, bersama Luhan,” balas Sehun, membuat Kyungsoo mengangguk.

“Bagaimana Luhan? Apa ia baik-baik saja?” tanya Sehun.

“Ia akhirnya bisa meluruskan pikirannya. Aku dibuat bingung karena moodnya yang sering berubah-ubah,” Sehun tertawa sekilas.

“Namun ia baik-baik saja. Kau tak usah khawatir,” lanjut Kyungsoo.

“Terima kasih, Kyung. Sudah menjaga Luhan. Memastikan ia baik-baik saja.”

“Tentu saja.”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Kyungsoo memandang Sehun, mengangguk. “Apakah menurutmu aku menyukai Luhan?”

“Pertanyaan seperti itu?” Kyungsoo tertawa. “Terlihat sangat jelas. Menurutku.”

“Benarkah?” tanya Sehun hati-hati.

“Molla.. Itu kan perasaanmu, kenapa bertanya kepadaku?” Kyungsoo malah kembali menggoda Sehun.

“Ayolah, Kyung…”

“Tanyakan kepada hatimu sendiri, Oh Sehun!”

Sehun terdiam. Kyungsoo terdiam.

“Sebenarnya, sore ini kami akan kembali. Luhan mengatakan ia merindukanmu.”

“Benarkah?”

“Kau pasti senang kan? Ia mengatakan, ia merindukan suaramu,” Sehun hanya bisa tersenyum, setidaknya Luhan tidak membencinya.

“Tentu saja,” balas Sehun singkat.

“Ayo ikut makan siang. Setelah itu kami berencana pulang.”

Kyungsoo dan Sehun pun berjalan beriringan memasuki vila.

“Kyung—“ ucapan Luhan terhenti, melihat Sehun yang berjalan pelan di belakang Kyungsoo.

Luhan menatap Sehun. Matanya memanas. Ia ingin menangis. Melihat sosok yang begitu ia rindukan. Namun ia menahannya. Ia hanya diam.

Sehun mendekati Luhan. Ia memeluk Luhan dengan canggung.

“Aku senang kau baik-baik saja,” bisik Sehun pelan.

Tidak ada percakapan yang terjadi selama mereka makan siang. Hanya Luhan yang sekilas melirik Sehun dan sebaliknya. Maupun Kyungsoo yang menatap Luhan dan Sehun bergantian dengan pandangan sedih. Kai pun hanya diam, padahal biasanya ia yang banyak bicara.

Kyungsoo dan Luhan mencuci peralatan masak dan menyimpannya. Sementara Kai dan Sehun sudah keluar, memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil.

“Luhan tidak membawa apa-apa. Ini semua milikku dan Kyungsoo. Kau tak usah membawa apa-apa.”

Sehun hanya mengangguk. Ia tentu saja mengetahui kalau Luhan tak membawa apa-apa. Luhan pergi di pagi hari dan samasekali tak kembali.

Tak lama kemudian, Kyungsoo dan Luhan sudah mengunci pintu.

“Lu, kau bersama Sehun ya?” tawar Kai.

“Okay,” balas Luhan, tak menatap Sehun samasekali.

Kai dan Kyungsoo berangkat terlebih dahulu. Sementara Sehun dan Luhan masih berdiri, memandangi satu sama lain.

“Ayo… Pulang,” ucap Luhan lirih.

“Tentu.”

Sepanjang perjalanan, Sehun dan Luhan tak saling bicara.

“Aku tak ingin berbicara di sini. Kita butuh tempat yang tenang. Aku masih ingin hidup karena itu konsentrasilah menyetir dan jangan terus-terusan melihatku Oh Sehun,” ucap Luhan ketika Sehun terus meliriknya.

등골브레이커

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Luhan keluar dari kamarnya. Ketika pulang, Luhan langsung mengunci dirinya di kamar. Ia tidak membalas pertanyaan yang Sehun berikan dan memilih diam di kamar.

“Apa kau sudah siap untuk bicara?” tanya Sehun yang sedang duduk di sofa, menonton film.

Luhan menarik napas panjang. “Baiklah.”

Luhan mendudukkan pantatnya di sofa, di samping Sehun.

“Hal pertama yang akan kita ucapkan pasti adalah maaf. Aku tidak ingin mendengar kata maaf. Aku hanya ingin mendengar cerita kita masing-masing, oke?” mulai Sehun.

“Kau lebih dulu,” Luhan menunjuk Sehun.

“Aku memang tak menyadari kalau kau menyukaiku, Lu. Aku kira kita hanya teman. Aku kira aku hanya menganggapmu sebagai saudara. Sebagai adik kecilku. Aku menjagamu sejak kau masih kecil. Perasaanku terhadapmu, aku tak tahu itu apa. Perasaanku terhadapmu selalu sama sejak dulu. Tak pernah berubah.”

“Perasaan apa itu?” potong Luhan, namun Sehun tak menjawab.

“Ketika aku melihat Krystal, aku jatuh hati dengannya. Ia yang tampak cantik. Aku melihatnya hanya dari fisik. Kecantikannya membuatku berpikir, kalau aku akan sangat senang jika bisa mendapatkannya. Aku tak menyangka kalau ia juga menyukaiku,” Sehun terdiam sejenak.

“Namun saat bersama Krystal, aku merasakan ada yang hilang dari diriku. Aku merasa senang, namun aku juga merasa aneh. Aku memikirkan Krystal, namun selalu ada hal lain yang menguasai pikiranku. Aku tak bisa memuji Krystal. Aku selalu membandingkannya. Aku merasa benar-benar aneh. Seakan diriku yang bersama Krystal, bukanlah diriku yang sebenarnya. Aku selalu menepis perasaan aneh itu. Aku mencoba berpikir positif. Meskipun aku mencoba, perasaan aneh itu semakin menguat.”

“Lalu insiden pagi hari itu. Dimana kau memberitahuku. Membuatku menyadari sesuatu. Perasaan aneh itu dirimu. Perasaan aneh itu Luhan. Luhan yang seperti adikku sendiri. Luhan yang bersamaku sejak masih kecil. Aku menyadari bahwa perbedaan itu dirimu. Segala hal yang kurang dari diriku, ada padamu. Yang kupikirkan setiap waktu adalah Luhan,” Sehun mendekatkan dirinya pada Luhan dan menatap Luhan erat.

“Kau. Kau yang menguasai pikiranku. Kau yang juga menjagaku. Kau yang selalu peduli padaku. Kau yang tak henti-hentinya menyayangiku. Kau… Kau yang mencintaiku. Luhan yang mencintaiku. Aku menyakinkan diriku sendiri. Aku terus berpikir, Lu. Apakah yang kurasakan itu benar. Apakah itu benar-benar dirimu yang kupikirkan. Lalu hingga aku mengambil keputusan, aku hanya melihat fisik Krystal semata. Aku hanya mengaguminya. Aku menyukainya yang tampak indah. Aku menyukainya dari mata.”

“Namun di dalam hatiku, aku menyimpanmu. Aku menyimpan perasanku kepadamu di dalam hatiku,” Sehun mengusap air mata Luhan perlahan, “Aku akan merasa sangat sakit jika aku melihatmu menangis seperti ini. Aku merasa sangat sakit saat aku kehilanganmu. Saat aku tak bisa melihatmu. Saat aku tak bisa memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak. Aku khawatir padamu. Aku tak bisa berhenti memikirkan dirimu. Pada akhirnya, aku merasa takut. Aku merasa takut kehilanganmu. Aku merasa takut bila suatu saat nanti kita berpisah.”

“Hatiku tak sanggup, Lu. Tak akan sanggup kehilangan dirimu.”

“Xi Luhan,” Sehun menatap mata Luhan dalam-dalam. “Aku pikir..”

“Aku pikir aku mencintaimu,” ucap Sehun sebelum akhirnya tangis Luhan meledak dan Sehun segera merengkuh Luhan dalam pelukannya.

Luhan tak bisa membendung perasaannya lagi. Ia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Sehun. Ia mendengarkan Sehun yang mendeskripsikan tentang perasaannya yang aneh. Luhan tak menyangka. Bahwa Sehun membicarakan tentang dirinya. Dirinya, Luhan.

“I’m a mess without you, Lu. I need you.”

“I miss our talks. I miss our laugh. I miss us spending time together. But in the end, I only miss you, Lu.”

“When you’re not here, I feel my hearts isn’t either.”

“Love. Is my feeling to you,” ucap Sehun.

Luhan tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa menangis dalam pelukan Sehun. Kata-kata yang telah disiapkannya, menghilang begitu saja.

“Lu.. Mungkin tak akan mudah bagimu untuk menerimaku kembali. Mungkin tak akan mudah bagimu untuk mempercayai kata-kataku. Tapi aku..” Sehun kembali menatap Luhan. “Tapi aku ingin mencoba semuanya dari awal denganmu.”

Luhan mencoba menahan tangisnya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan.

“Hun.”

“Ne?”

“Ayo kita mulai semuanya dari awal.”

~THE END~

ADA EPILOGNYA! Iseng aja ah epilognya aku kasih password. Kalo mau dicari di ffn juga ada kok.

Yang mau password buat epilog bisa mention di @yo_ongi dan kasih alamat email nanti aku kirim lewat email. Atau langsung email aja di suhogokil@gmail.com.

ISENG DOANG SIH YA CARI AJA DI FFN ADA KOK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s