[Chapter 1] You, Baby – SoonHoon

Title : You, Baby

Author : dugeunkyoo

Main Cast / Pairing : Lee Jihoon (Woozi) x Kwon Soonyoung (Hoshi)

Word Count : <1000 words

Disclaimer : I DO NOT OWN SEVENTEEN. This is purely fiction.

Summary : Jihoon bertemu Hoshi, seorang murid kelas tari. Mereka mulai menjalin pertemanan, namun Hoshi sendiri masih terasa misterius bagi Jihoon. Ketika akhirnya Hoshi menunjukkan sifat aslinya, bisakah Jihoon menerima Hoshi apa adanya? Meski ia masih berada bayang-bayang trauma masa lalunya?

Enjoy my cheesy-crappy fic!


Jihoon menyusuri lorong dengan langkah kaki tak pasti. Cahaya bulan menyeruak melalui beberapa jendela yang terbuka. Tak seharusnya ia berada di sekolah pada malam hari. Namun kesialan tengah menghampirinya, ketika ia tertidur di ruang kelas dan teman-temannya tidak mau bersusah payah untuk membangunkannya.

Ya, Jihoon memang sulit untuk bangun dari tidurnya. Ia terlalu menyukai tidur. Ia sendiri mengakui hal itu.

Lagipula ia memang sudah lelah. Sekolah benar-benar menyiksanya. Berbagai tugas kini menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan. Namun ini memang pilihan Jihoon. Bersekolah di sekolah seni. Jihoon sendiri memilih kelas vocal. Pelajarannya terfokus pada vokal dan semua yang berhubungan dengan itu. Ia bahkan mempelajari rap dan ia melakukannya dengan baik. Kemampuannya dalam membuat lagu juga tak diragukan lagi.

Jihoon kembali memandang sepatunya selagi ia menyusuri lorong. Entah mengapa setiap kali ia berjalan, sepatunya terasa lebih menarik, membuat Jihoon akan selalu menunduk ketika ia berjalan. Jihoon menyadari cahaya yang menguar dari salah satu celah pintu. Ia mendekat, merasa penasaran.

Dari celah pintu yang terbuka, Jihoon melihat seseorang tengah menari. Wajahnya penuh peluh, namun tariannya masih terlihat bersemangat. Jihoon tak mengenal orang itu. Jihoon tak terlalu mengenal murid dari kelas tari. Pergaulannya terbatas pada orang-orang dengan minat yang sama dengannya. Namun Jihoon menjadi penasaran dengan sosok itu. Ia ingin mengenal sosok yang menari dengan penuh perasaan itu.

“Hai,” sapa Jihoon ketika namja itu berhenti menari. Ia tampak kaget melihat Jihoon yang tersenyum di depan pintu.

“Oh, hai,” balasnya pendek.

“Kau tak seharusnya ada di sini kan? Ruang latihan hanya digunakan pada pelajaran.”

“Kau juga melanggar peraturan. Kau tak seharusnya berada di sekolah pada malam hari.”

Jihoon dan namja itu bertatapan sebentar. Sebelum akhirnya mereka tertawa.

“Aku tertidur dalam kelas,” ucap Jihoon jujur.

“Yeah, dan aku hanya melanggar peraturan seperti biasa,” namja itu meraih handuk dan menyeka keringatnya. “Lebih baik kita cepat pergi sebelum ketahuan.”

“Apa? Apa maksudmu kau sering melakukan hal ini? Berlatih di sekolah?” tanya Jihoon setengah tak percaya.

Namja itu mengemasi tasnya. “Tentu saja. Itu hal yang biasa.”

“Woah.”

Jihoon berjalan di belakang namja tersebut. Mereka hanya diam selagi menuruni tiga lantai.

“Siapa namamu?”

“Hoshi.”

“Itu tak terdengar seperti nama orang Korea,” komentar Jihoon. “Aku Jihoon.”

“Apa kau menyanyi?” tanya Hoshi.

“Yap! Dan kau pasti menari,” balas Jihoon penuh semangat. “Aku harap aku mengenalmu lebih awal.”

“Kenapa?”

“Tarianmu sangat keren! Membuatku ingin menari sepertimu!” Jihoon memberikan dua jempolnya pada Hoshi. Hoshi hanya tertawa.

“Terima kasih. Di lain kesempatan aku akan mengajarimu.”

“Kau sudah berjanji! Aku akan mencarimu dan menagih janjimu!”

“Tentu saja, aku kan sudah berjanji,” ujar Hoshi lalu ia berhenti, membuat Jihoon menabrak punggungnya.

“Kenapa berhenti?”

“Ini dorm-mu, Jihoon,” Jihoon menoleh, lalu ia tersenyum malu.

“Baiklah, terima kasih, Hoshi!” Jihoon melambaikan tangannya pada Hoshi hingga ia menghilang di balik pintu.

Hoshi tersenyum kecil, lalu berjalan menuju dorm-nya sendiri.

Sekolah seni ini memang sekolah khusus laki-laki. Mereka semua hidup di dorm yang dibagi menurut kelas, tari, vokal, maupun instrumen.

Jihoon sendiri memiliki kamar untuk dirinya sendiri. Ia tak memiliki roommate karena jumlah siswa yang ganjil. Meskipun terkadang kesepian, ia dapat menggunakan seluruh kamar untuk dirinya sendiri tak tak perlu memikirkan pendapat orang lain jika kamarnya berantakan.

Begitu Jihoon memasang charger pada ponselnya, berbagai pesan masuk. Kebanyakan dari Jeonghan dan Seungkwan.

From : 1004JHan

– Jihoon-ah! Apa kau sudah bangun?

– Apa kau masih di kelas?

– Ya! Jihoon balas pesanku!

– Jihoon kenapa kau tak mengangkat telponku?!

– Jihoon ini sudah malam! Balas!

– Jihoon kau tidak takut gelap kan?

– Apa aku dan Jisoo harus menjemputmu di kelas?

Pesan terakhir masuk tiga menit yang lalu. Jihoon segera membalas pesan dari Junghan.

To : 1004JHan

Aku sudah bangun. Aku sudah di kamar. Safe and Sound.

Setelah mengirimkan pesan itu, Jihoon pun mandi.

From : 1004JHan

Okay! Cepatlah makan malam, jangan sampai sakit🙂

Jihoon yang baru keluar dari kamar mandi segera berpakaian ketika menyadari sudah hampir pukul sembilan. Ruang makan akan ditutup pada pukul sembilan lima belas.

To : 1004JHan

Walking to dining room!

From : 1004JHan

I’ll see u there. Wait for me

To : 1004JHan

Ok

Tak banyak makanan yang tersisa. Ahjumma di dapur sudah memberikan semua makanan yang tersisa namun itu bahkan tak memenuhi piringnya.

“Ya! Jihoon!” Jeonghan berlari ke arah Jihoon yang duduk sendirian. “Aku membawakanmu roti dan puding!”

“Darimana kau mendapatkannya?”

“Makan malam tadi, kami mendapat puding dan roti. Karena aku baik, aku mengambil untukmu juga! Karena pasti banyak yang curang!”

“Gomawo!” seru Jihoon lalu memulai makannya.

Selesai makan, Jihoon dan Jeonghan berjalan bersama ke dorm mereka.

“Good night, Jihoon,” ucap Jeonghan ketika Jihoon sudah sampai di depan kamarnya. Jeonghan sendiri mendapat kamar di lantai dua.

“Night.”

.

.

Jihoon bangun seperti biasa. Pukul setengah tujuh pagi ia sudah berjalan menuju ruang makan. Pelajaran akan dimulai pada pukul setengah delapan. Seperti biasa, antrian untuk sarapan adalah antrian terpanjang karena waktu yang tidak banyak. Jihoon hanya menunggu hingga gilirannya untuk mengambil makan.

Namun tak seperti biasanya, kali ini Jihoon makan dengan tidak konsentrasi. Ia terus memandang ke sekelilingnya. Ia berharap untuk menemukan Hoshi. Padahal biasanya ia akan makan dengan tenang dan cepat. Jihoon juga menyadari bahwa tak ada teman-temannya di sini. Mungkin mereka sudah sarapan lebih pagi.

From : Diva Boo

Aku pikir kau lupa kalau kita harus latihan pagi ini

Jihoon hampir tersedak ketika membaca pesan Seungkwan. Ia benar-benar lupa kalau pagi ini mereka seharusnya latihan untuk tugas yang harus mereka tampilkan siang nanti. Jeonghan juga tak mengingatkannya kemarin.

Jihoon menyuap makanan terakhirnya dan segera menumpuk piringnya bersama piring kotor lain. Ia berlari melewati belakang ruang makan, menuju ke deretan ruang latihan yang terletak di gedung bagian belakang sekolah.

Sekolah ini memiliki dua tipe ruang latihan. Ruang latihan yang lebih besar, biasanya digunakan saat pelajaran bersama guru, terletak di semua lantai gedung sekolah. Sementara ruang latihan yang lebih kecil, terletak agak terpisah di belakang sekolah, gedungnya berada di dekat lapangan belakang sekolah, dan bisa digunakan oleh murid-murid kapanpun. Jumlahnya pun banyak dan beberapa memiliki ukuran yang sedikit lebih besar.

“Aw!” Jihoon berteriak ketika ia jatuh tersandung.

Seseorang berlari ke arahnya dan membantunya berdiri.

“Hoshi?”

To Be Continued


This is kind of prologue? I already write more than 9000 word for this fic, and i have to write the ending soon. Please comment to my cheesy-crappy fic and i’ll update faster. Ugh, i hope i have reader(s) for this fic.

Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s